My Profile

Foto saya
Lamongan jawa timur, Indonesia
Jangan lihat aku dari luar..............!!!!!

Kamis, 10 November 2011

Makalah Ahad 18 Des 2011


PENGEMBANGAN PENGALAMAN BELAJAR DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pemakalah :
A Muhklis
S’uudiyanto
M Sholeh
A. Pengertian Pengalaman Belajar
Istilah “pengalaman belajar” berarti interaksi antara siswa dan kondisi eksternal di
lingkungan tempat ia bereaksi(Tyler ) Definisi ini menunjukkan tiga hal penting dalam
proses belajar: 1) bahwa siswa adalah partisipan yang aktif; 2) bahwa lingkungan yang
ada menarik perhatian siswa; dan 3) bahwa reaksi siswa timbul dari lingkungan yang ada.
Di sini, belajar pada hakikatnya adalah tindakan aktif siswa sebagai konsekuensi dari
reaksinya terhadap kondisi interaksional yang ada pada lingkungannya. Aktivitas belajar
akan tercipta jika siswa berada pada suatu lingkungan yang memungkinkannya untuk
bereaksi dan melakukan tindakantindakan serta mendapatkan pengalamanpengalaman.
Partisipasi aktif dari siswa inilah yang mendukung efisiensi dan efektifitas peranan belajar
dalam pembinaan kompetensi siswa. Dengan demikian, belajar adalah serangkaian
aktivitas siswa yang menghasilkan pengalaman belajar. Pengalaman belajar ini tidak lain
adalah kompetensi riil yang dimiliki oleh siswa.
Menurut Sanjaya (2009:84) Pengalaman belajar adalah segala aktivitas siswa dalam
berinteraksi dengan lingkungan. Pengalaman belajar bukanlah isi atau materi pelajaran
dan bukan pula aktivitas guru memberikan pelajaran. Tyler (1990:4) mengemukakan: “The
term “learning experiences” is not the same as the content with which a course deals nor activities
performed by the teacher. The term “learning experiences” refers to the interaction between the
learner and the external conditions in the environment to which he can react. Learning takes place
through the active behavior of the student; it is what he does that he learns not what the teacher
does”.
Pengalaman belajar menunjuk kepada aktivitas siswa di dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian, yang harus dipertanyakan dalam pengalaman ini adalah “apa yang
akan atau telah dikerjakan siswa” bukan “apa yang akan atau telah diperbuat guru”.
Untuk itulah, guru sebagai pengembang kurikulum mestinya memahami minat siswa,
serta bagaimana latar belakangnya. Pemahaman tersebut akan memudahkan guru dalam
mendesain lingkungan yang dapat mengaktifkan siswa memperoleh pengalaman belajar.
Meskipun siswa merupakan aktor utama dalam proses pencapaian pengalaman
belajar, namun guru juga merupakan aktor yang memiliki peranan penting dalam
memberikan pengalaman belajar bagi siswa. Pemberian pengalaman belajar dilakukan
oleh guru melalui penentuan suatu lingkungan dan penyusunan situasi yang dapat
menimbulkan stimulasi dan reaksi yang esensial dalam proses belajar. Kenyataan bahwa
setiap siswa memiliki pengalaman yang berbedabeda menjadi dasar bagi tanggung jawab
guru untuk menentukan situasisituasi yang mampu membangkitkan pengalamanpengalaman
yang diinginkan.
B. PrinsipPrinsip Pemilihan Pengalaman Belajar
Pengalamanpengalaman belajar sangatlah banyak dan beragam. Namun, tidak semua
pengalaman belajar dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Karena itu,
pengalamanpengalaman belajar yang ada perlu diseleksi berdasarkan jenis tujuan yang
ditentukan. Penyeleksian ini sangat penting agar pengalaman belajar yang dipilih dan
diaplikasikan dalam suatu proses pembelajaran dapat lebih efisien dan efektif dalam
mencapai tujuan belajar yang telah ditentukan.
2
Ada beberapa prinsip umum yang diterapkan dalam penyeleksian pengalaman
belajar. Prinsip umum pertama, yang berkaitan dengan tujuan tertentu yang dicapai, ialah
bahwa siswa harus mempunyai pengalaman yang memberikan kesempatan kepadanya
untuk melatih diri dalam jenis perilaku yang dijelaskan dalam tujuan. Bisa dikatakan, jika
salah satu tujuan ialah untuk mengembangkan keterampilan dalam memecahkan
masalah. Demikian juga halnya, jika tujuan yang lain ialah untuk mengembangkan minat
dalam membaca beragam buku, tujuan ini tidak dapat dicapai kecuali jika siswa
mempunyai kesempatan untuk membaca beragam buku dengan cara yang memberikan
kepuasan bagi mereka. Ini benar dalam hubungannya dengan setiap jenis tujuan, adalah
penting bahwa pengalaman belajar yang ditentukan yang memberikan kesempatan
kepada siswa untuk latihan jenis perilaku yang tercantum dalam pengalaman belajar.
Prinsip umum kedua ialah bahwa pengalaman belajar harus mampu mengkondisikan
siswa untuk memperoleh kepuasan dari pelaksanaan perilaku yang dicantumkan dalam
tujuan. Contoh pengalaman belajar dalam prinsip ini adalah “mengembangkan
keterampilan dalam memecahkan problem kesehatan”. Pada pengalaman belajar ini,
siswa mendapatkan kesempatan untuk memecahkan problem kesehatan dan
menghasilkan solusi yang efektif. Solusi yang efektif atas problem kesehatan didapatkan
akan memberikan kepuasan kepada siswa. Jika pengalaman di atas tidak memuaskan,
maka belajar dipandang tidak berhasil. Dengan demikian, kepuasan yang diperoleh dari
pengalaman belajar merupakan salah satu indikator penting dalam hasil belajar siswa.
Prinsip umum ketiga ialah bahwa reaksi yang dinginkan dalam pengalaman belajar
berada dalam kisaran kemungkinan bagi siswa yang bersangkutan. Dalam prinsip ini,
pengalaman belajar diharapkan bisa sedapat mungkin mempengaruhi dan menimbulkan
responsi siswa. Responsi yang dimaksud adalah sikap atau perilaku yang ditunjukkan
siswa pada saat kegiatan belajar berlangsung. Sikap dan perilaku ini tentunya harus
mengarah kepada pencapaian tujuan belajar yang diinginkan.
Prinsip umum keempat ialah bahwa banyak pengalaman khusus yang dapat digunakan
untuk mencapai tujuan pendidikan yang sama. Berbagai pengalaman pendidikan dapat
ditemukan untuk kemudian dipikirkan relefansinya dengan tujuan pendidikan.
Pengalamanpengalaman pendidikan, selama memenuhi kriteriakriteria belajar efektif,
sangat bermanfaat bagi pencapaian tujuan yang diinginkan. Pengertian ini
mengimplikasikan berbagai tuntutan. Guru dituntut untuk kreatif dan inovatif dalam
merencanakan pekerjaannya. Sekolah juga harus bisa mengembangkan dan memperluas
pengalamanpengalaman pendidikan. Kurikulum dalam hal ini tidak perlu memberikan
seperangkat pengalaman yang terbatas agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai.
Prinsip umum kelima ialah bahwa pengalaman belajar yang sama biasanya akan
menghasilkan beberapa hasil. Sebagai contoh, sewaktu siswa memecahkan masalah
tentang kesehatan, ia juga memperoleh informasi tertentu dalam bidang kesehatan; Ia
mungkin juga mengembangkan sikap tertentu ke arah pentingnya prosedur kesehatan
masyarakat. Setiap pengalaman belajar cenderung memberikan lebih dari satu tujuan
belajar. Pengalaman belajar yang telah direncanakan dengan sebaikbaiknya akan
menghasilkan pengalaman yang pada waktu yang bersamaan bermanfaat dalam
mencapai beberapa tujuan.
Sanjaya (2009) menguraikan tentang beberapa prinsip engembangan pengalaman
belajar. Pertama, pengalaman siswa harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Setiap
tujuan akan menentukan pengalaman belajar. Kedua, setiap pengalaman belajar harus
memuaskan siswa. Ketiga, setiap rancangan pengalaman belajar sebaiknya melibatkan
3
siswa. Keempat, mungkin dalam satu pengalaman belajar dapat mencapai tujuan yang
berbeda.
Terdapat beberapa bentuk pengalaman belajar yang dapat dikembangkan, misalnya
pengalaman belajar untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa, pengalaman
belajar untuk membantu siswa dalam mengumpulkan sejumlah informasi, pengalaman
belajar untuk membantu mengembangan sikap sosial, dan pengalaman belajar untuk
membantu mengembangkan minat.
C. Karakteristik Pengalaman Belajar
Karena banyaknya tujuan yang memungkinkan dikembangkan dalam berbagai
pengalaman belajar, tidak mungkin untuk memasukkan semua pernyataan komprehensif
tentang karakteristik pengalaman belajar. Akan tetapi, kita harus mempertimbangkan
beberapa sampel jenis umum tentang tujuan dan mencatat beberapa karakteristik penting
yang diperlukan dari pengalaman belajar untuk mencapai tujuan.
1. Pengalaman belajar untuk mengembangkan ketrampilan berpikir.
Istilah ‘’berpikir’’ digunakan dalam berbagai cara, tetapi, pada umumnya, jenis
perilaku yang ditentukan ialah berkenaan dengan dua ide atau lebih bukan hanya
mengingat dan mengulangulang ide tersebut. Berpikir induktif meliputi penggambaran
generalisasi dari beberap item dari data khusus. Berpikir deduktif meliputi penerapan
satu generalisasi atau lebih pada kasus khusus. Berpikir logis meliputi pengaturan asumsi,
dan kesimpulan dengan cara untuk mengembangkan suatu argumentasi logis. Sangat
umum, dalam situasi khusus, beberpa jenis berpikir akan diperlukan sehingga jarang bagi
seorang guru untuk berkonsentrasi hanya pada satu aspek berpikir. Karena pengalaman
belajar harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan jenisjenis berpikir
ini, maka penting bahwa situasi seperti itu untuk menstimulir jenis perilaku ini. Kajian
tentang belajar dalam bidang ini menunjukkan bahwa karena para siswa dihadapkan
pada problem yang tidak dapat mereka jawab dengan segera, maka ada kecenderungan
bahwa mereka akan mengarahkan pada berbagai jenis berpikir. Lebih lanjut, problem atau
soalsoal tidak perlu merupakan jenis pertanyaan dimana jawabannya dapat diperoleh
dengan segera dengan melihatnya dalam buku teks atau beberapa bahan referensi
lainnya. Soalsoal harus merupakan jenis yang memerlukan hubungan dari berbagai fakta
dan idea agar dapat memperoleh semua jenis solusi. Juga diinginkan bahwa soalsoal
ditentukan dalam jenis lingkungan dimana soal tersebut biasanya ada dalam kehidupan.
Ini ada kecenderungan dihasilkan saat dia melihatnya sebagai suatu problem nyata yang
baik bagi usahanya untuk memecahkannya.
Ketika siswa tersebut memperoleh pengalaman awal dalam mengerjakan soal, akan
perlu menentukan situasi sehingga akan melihat dan mengikuti langkahlangkah berpikir
dalam uruturutan normal mereka. Ini bisa meliputi langkahlangkah sebagai berikut: (a)
merasakan kesulitan atau suatu pertanyaan yang tidak dapat dijawab pada saat ini, (b)
mengidentifikasi problem secara lebih jelas dengan menganalisisnya, (c) mengumpulkan
fakta yang relevan, (d) merumuskan hipothesis yang memungkinkan penjelasan atau
solusi alternatif terhadap problem tersebut, (e) menguji hipothesis dengan makna yang
tepat, dan (f) membuat kesimpulan – yaitu, memecahkan problem. Dalam merumuskan
hipothesis yang memungkinkan, siswa mampu menarik generalisasi atau prinsipprinsip
yang telah mereka ketahui dan mungkin dalam hal ini dapat memecahkan problem yang
segera tanpa menguji hipothesis bahwa prinsip ini adalah relevan. Dalam halhal khusus,
langkahlangkah dalam pemecahan masalah atau penyelesaian soalsoal ini mungkin
beragam; tetapi, secara umum, pengalaman belajar harus memberikan suatu kesempatan
4
bagi siswa untuk diikuti melalui langkahlangkah penting untuk mengetahui apa yang
dilakukan dalam masingmasing langkah sehingga menjadi trampil dalam mengambil
langkahlangkah yang perlu.
Sudah barang tentu, harus jelas bahwa siswa belajar untuk berpikir melalui
pengalaman tentang pemecahan masalah bagi dirinya sendiri. Dia belum mencapai tujuan
ketika guru melakukan pemecahan masalah dan siswa hanya memperhatikan. Juga harus
terbukti bahwa langkahlangkah tertentu dari pemecahan masalah agaknya memerlukan
perhatian pada tahap yang berbeda dalam kematangan siswa. Sebagai misal, langkah
yang memerlukan pengumpulan fakta yang relevan agar memiliki dasar untuk memilih
solusi yang memungkinkan dan memerlukan latihan khusus pada tahun awal dari
sekolah dasar dan sekolah menengah. Sayangnya, dalam matematika siswa biasanya
diberikan semua fakta yang dia perlukan sehingga semua yang harus dilakukannya ialah
membuat hitungan. Selanjutnya, ketika dia dihadapkan pada pentingnya mendapatkan
kepastian tentang fakta untuk dirinya sendiri, dia seringkali tidak mengetahui, fakta apa
yang diperlukannya dan kemana dia dapat memperolehnya. Eksperimeneksperimen
menunjukkan bahwa siswa yang diberikan latihan khusus dalam memutuskan tentang
fakta relevan yang diperlukan dan kemana dan bagaimana memperolehnya menunjukkan
kemajuan yang lebih besar dalam belajar memecahkan masalah. Sebaliknya, penekanan
terhadap caracara mengumpulkan fakta yang relevan mungkin tidak begitu penting di
pendidikan tinggi jika siswa telah memperoleh ketrampilan dalam proses ini dalam
pendidikan sebelumnya.
Sebagian eksperimen belajar yang telah dilakukan dalam mencari jawaban
pertanyaan, ‘’Apakah akan membantu untuk mengajarkan siswa untuk menganalisis
masalah?’’ Satu penelitian telah dilakukan dengan anakanak pada kelas sembilan.
Ditemukan bahwa siswasiswa menggunakan beberapa cara yang berbeda dalam
mengatasi masalah. Mereka mendapatkan bahwa sebagian siswa dapat melihat ke depan
dan membuang sebagian langkahlangkah cepat dalam pemecahan masalah. Yang lainnya
akan melewatinya melalui langkahlangkah rutinitas yang terinci dan cara yang
memerlukan banyak usaha selangkah demi selangkah melalui masingmasing tahap
dalam analisis tersebut. Ketika semua siswa diajarkan satu metode khusus tentang
analisis, ditemukan bahwa siswa yang lebih lambat, mengalami kemajuan yang
menggembirakan. Ini menggambarkan bahwa sebagian siswa harus diajarkan selangkah
demi selangkah yang lainnya seringkali dapat membuat lompatan mental/besar dan tidak
harus diberikan suatu bentuk analisis yang terinci.
2. Pengalaman belajar dalam memperoleh informasi.
Pengalaman belajar jenis ini meliputi tujuan untuk mengembangkan pemahaman halhal
yang khusus danmengembangkan pengetahuan. Biasanya, jenis informasi yang
diperoleh termasuk prinsipprinsip, hukum atau pereturan, teori, eksperimen, dan bukti
yang mendukung generalisasi, ide, fakta, dan istilah. Diasumsikan bahwa tujuan seperti
itu adalah penting jika informasi tersebut dianggap sebagai fungsional; yaitu, bermanfaat
berkenaan dengan serangan para siswa terhadap problem atau dengan bimbingan dari
prakteknya dan sejenisnya. Tidak diasumsikan bahwa informasi akan mempunyai nilai
sebagai suatu tujuan itu sendiri.
Terdapat lima kelemahan dari belajar informasi. Pertama, siswa seringkali menghapal
dengan hafalan bukan memperoleh semua pemahaman yang nyata atau kemampuan
untuk menerapkan ide yang mereka ingat. Sebagai contoh, John Dewey melaporkan
sebuah kelas di sekitar kota Chicago yang mempelajari bagaimana cara bumi terbentuk.
John Dewey menanyakan kepada para siswa apakah, jika mereka dapat menggali pusat
5
dari bumi, mereka akan merasakan panas atau dingin di sana. Tidak ada seorang anakpun
yang dapat menjawab. Kemudian gurunya mengatakan kepada John Dewey bahwa dia
memberikan pertanyaan yang salah. Guru tersebut berbalik menghadap anakanak dan
mengatakan: ‘’Anakanak, bagaimanakah kondisi pada pusat bumi?’’anakanak menjawab
secara bersamaan,’’Dalam keadaan campuran panas,’’Hafalan tanpa pemahaman secara
bersamaan adalah biasa dan merupakan akibat dari pengalaman dewasa ini yang
digunakan untuk mengembangkan informasi. Kedua dalam mempelajari informasi
seringkali siswa mudah lupa.
Ketiga, kurangnya organisasi yang memadai. Banyak para siswa mengingat informasi
hanya ketika beberapa waktu yang terpisah dan tidak dapat menghubungkan itemitem
ini dengan semua bentuk yang terorganisir atau bentuk yang sistematis. Keempat, tingkat
kesamaran atau kekaburan dalam daya ingat siswa sehingga siswa memiliki keakraban
yang terbatas dengan sumbersumber informasi.
3. Pengalaman belajar dalam mengembangkan sikap sosial.
Tujuan yang dapat diklasifikasikan sebagai pengembangan sikap sosial meliputi halhal
yang ditekankan di dalam ilmu pengetahuan sosial, di dalam kesusasteraan, di dalam
seni, pendidikan olah raga, kegiatan ekstrakurikuler, dan sejenisnya. Sikap didefinisikan
sebagai suatu tendensi untuk bereaksi meskipun reaksi tersebut sebenarnya tidak
berperan. Setiap orang telah mengalami suatu keinginan untuk melakukan sesuatu, suatu
perasaan kesiapan untuk bereaksi dengan cara tertentu, yang biasa mendahulukan reaksi
terbuka, atau dilihat, dan dalam beberapa hal mungkin menghalangi sehingga tidak ada
reaksi yang dapat dilihat yang sebenarnya berperan. Dengan demikian, seseorang bisa
mempunyai suatu sikap tidak menyenangkan kearah seorang kolega tetapi tidak akan
mengekspresikannya secara verbal atau fisik. Pentingnya sikap yang timbul dari fakta
bahwa sikap berpengaruh sangat kuat terhadap perilaku yaitu, tindakan yang dapat
dilihat dan juga sangat mempengaruhi jenisjenis kepuasan dan nilainilai yang dipilih
oleh individu.
Kajian tentang perkembangan sikap menunjukkan bahwa ada empat makna utama
dimana sikap biasa berkembang pada orang. Metode yang paling sering ialah melalui
asimilasi dari lingkungan. Halhal yang dianggap sudah biasa oleh orang di sekitar kita,
sudut pandangan yang biasa dipertahankan oleh teman kita dan sahabat kita ialah
merupakan ilustrasi dari sikap lingkungan yang seringkali diasimilasikan tanpa kita
menyadari tentang hal tersebut. Metode yang kedua dan mungkin yang paling sering
digunakan untuk memperoleh sikap timbul dari pengaruh emosional dari jenis
pengalaman tertentu. Secara umum, jika seseorang telah memperoleh pemenuhan
pengalaman dalam satu hubungan khusus, dia mengembangkan suatu sikap yang
menyenangkan bagi beberapa muatan atau aspek dari pengalaman tersebut, sedangkan
jika dia telah memiliki suatu akibat yang tidak memuaskan dari pengalaman, sikapnya
bisa menjadi antagonis. Metode ketiga yang paling sering tentang pengembangan sikap
ialah melalui pengalaman yang traumatis, yaitu, pengalaman yang mempunyai suatu
akibat emosional yang mendalam. Jadi, seorang remaja mungkin dapat berkembang rasa
takutnya sepanjang malam terhadap anjing dari satu pengalaman tentang takut digigit
oleh anjing tersebut. Akhirnya, metode yang keempat tentang pengembangan sikap ialah
melalui proses intelektual langsung. Dalam beberapa hal jika kita melihat implikasi dari
perilaku khusus, jika kita menganalisis hakikat dari suatu obyek atau proses khusus, kita
diarahkan untuk mengembangkan suatu sikap yang menyenangkan atau tidak
menyenagkan terhadapnya dari pengetahuan yang kita peroleh dari analisis intelektual.
Sayangnya, sikap terbentuk melalui proses intelektual tertentu tersebut tidak sering
6
seperti yang diperoleh dengan cara lainnya. Dari keempat metode pengembangan sikap
tersebut, yang ketiga ruparupanya tidak begitu bermanfaat bagi sekolah. Pengalaman
traumatis melibatkan reaksi emosional yang tegang adalah terlalu berat untuk dikontrol
yang digunakan secara sistematis di dalam suatu program pendidikan. Oleh karena itu,
sekolah seharusnya bertumpu pada penggunaan suatu proses asimilasi dari lingkungan,
dari pengembangan sikap melalui pengaruh emosional dari pengalaman khusus, dan
melalui proses intelektual langsung.
Beberapa generalisasi bisa digambarkan berkenaan dengan pengalaman belajar untuk
mengembangkan sikap. Pada tempat perama, sekolah dan lingkungan masyarakat
seharusnya, sejauh mungkin, dimodifikasi dan dikontrol sedemikian rupa untuk
meningkatkan sikap yang diinginkan. Di kalangan masyarakat modern ada pemisahan
antara sekolah dan rumah, sekolah dan gereja, sekolah dan masyarakat lainnya berkenaan
dengan sikap yang dikembangkan lingkungan adalah tidak konsisten; nilai, sudut
pandang dianggap sudah biasa dalam tekanan yang diumumkan di atas mimbar, nilainilai
yang ditekankan dalam bioskop adalah bertentangan dengan usaha sekolah untuk
mengembangkannya. Ada suatu kebutuhan yang besar untuk berusaha untuk
memodifikasi lingkungan para remaja melalui pengalaman mereka agar dapat membantu
dia mengembangkan sikap sosialyang baik. Ini berarti meningkatkan tingkat konsistensi
lingkungan dan membantu untuk memberikan dorongan penekanan pada sikap bukan
sikap yang mementingkan diri sendiri.
Ini secara khusus memungkinkan bagi sekolah untuk mengembangkan lingkungan
sekolah yang lebih menyatu agar dapat mengembangkan sikap. Jika fakultas menguji halhal
yang dianggap biasa dalam sudut pandang dari para anggota staf, dalam aturan dan
tata tertib dan praktek di sekolah, seringkali memungkinkan untuk memodifikasi halhal
tersebut secara jelas sehingga dapat mengembangkan suatu lingkungan yang lebih
terpadu yang akan membantu menekankan sikap sosial.
Sebuah tendensi umum pada masyarakat tertentu cenderung merusak sikap sosial
bukan mengembangkannya: yaitu, kegagalan untuk menentukan hakikat struktur sosial
yang ada di luar sekolah dan asumsi bahwa sudut pandang dari kelas menengah dari
guruguru di sekolah adalah sudut pandang yang bagus meskipun sudut pandang
tersebut mungkin bertentangan secara tajam dengan lingkungan sosial yang diberikan
oleh berbagai keluarga dan kelompok ethnis, dan kelompok kelas sosial di dalam
masyarakat. Dengan memperkuat sikap sosial yang positif di dalam masyarakat dan
membuat sekolah konsisten dengannya bukan keharusan untuk menguatkan suatu
pandangan khusus yang dipegang oleh sekelompok guruguru tertentu, seringkali
memungkinkan untuk memperoleh tingkat kesatuan yang jauh lebih besar di lingkungan
anakanak dan oleh karennya meningkatkan pengembangan sikap sosial dengan mereka.
Kelemahan yang kedua yang diatasi di banyak sekolah ialah eksistensi dari kondisi
anti sosial di sekolah. Penerimaan dari klikklik tertentu, itensifikasi dari garisgaris kelas
sosial di dalam sekolah melalui organisasi sosial informal dan melalui perlakuan yang
diberikan guruguru kepada anakanak yang berbeda seringkali bisa mengembangkan
sikap mementingkan diri sendiri tanpa kesadaran kita tentang hal tersebut. Sebuah
pengujian yang hatihati tentang lingkungan sekolah akan menggambarkan banyaj
kemungkinan untuk menggunakannya untuk mengembangkan sikap yang diinginkan.
Dalam mengembangkan sikap melalui penggunaan pengalaman yang mempunyai
kebersamaan emosional yang memuaskan, penting untuk memberikan kesempatan bagi
siswa untuk berperilaku dengan cara yang diinginkan dan untuk memperoleh kepuasan
dari hal tersebut. Sebagai contoh, jika di sekolah dasar suatu usaha dilakukan untuk
7
mengembangkan secara lebih baik, lebih banyak sikap sosial, penting untuk memberikan
pengalaman di mana anakanak mempunyai kesempatan untuk berbagai dengan anakanak
dari kelompokkelompok rasial lainnya, untuk melayani dan dilayani oleh mereka,
namun di dalam situasi yang memberikan banyak kepuasan dari jenis berbagi rasa ini, hal
ini saling memberi dan saling menerima. Jika anakanak telah merencanakan sebuah pesta
bersamasama dan mempunyai kepuasan dari menjalankan segala hal secara berhasil, ini
merupakan salah satu ilustrasi untuk menentukan suatu pengalaman di mana dia
menginginkan sikap sosial dapat direfleksikan dan kepuasan dapat diperoleh pada waktu
yang bersamaan.
Dalam menggunakan proses intelektual untuk mengembangkan sikap sosial,
pengalaman harus seperti itu untuk memberikan suatu analisis yang luas tentang situasi
sosial, untuk mengembangkan, yang pertama, pemahaman dan selanjutnya sikap yang
diinginkan. Dalam beberapa hal, suatu serangan frontal terhadap beberapa jenis problem
sosial tidaklah mungkin. Jika para siswa mempunyai prasangka dan konsepsi stereotipe,
ini bisa menghambat pemahaman mereka dan mereka gagal untuk melihat logika tentang
pandangan sosial. Dalam hubungan ini, seringkali bermanfaat untuk memberikan suatu
kesempatan kepada pada siswa untuk memperoleh pengalaman tangan pertama dengan
problem, untuk mengetahuinya sendiri hakikat yang serius tentang pengangguran,
misalnya, agar dapat memperoleh dengar pendapat tentang caracara yang
memungkinkan berkenaan dengan problem seperti itu. Kesusastraan atau bioskop (motion
picture) dapat memberikan suatu pendapat pribadi tentang beberapa jenis situasi sosial
yang tidak akan diperoleh oleh kajian yang sepintas dari data itu saja. Dengan
menggunakan metode ini, bidang problem dapat terbuka untuk kajian. Selanjutnya jika
telah ada pemahaman yang jelas tentang situasi tersebut, memungkinkan untuk
membantu para siswa untuk mengembangkan sikap karena mereka mengetahui implikasi
tentang sudut pandangan yang mereka gunakan. Akhirnya, dalam program tentang
pengembangan sikap seperti itu melalui proses intelektual, diinginkan secara periodik
bagi para siswa untuk mereview perilaku mereka dalam bidang khusus, untuk
membantu mengecek dengan tujuan dimana mereka memberikan layanan yang berupa
janjijanji kosong, untuk mengetahui sejauh mana perilaku mereka sendiri sesuai dengan
apa yang diyakini oleh profesi mereka. Jenis tinjauan ulang periodik ini membantu juga
untuk memengaruhi dan mengembangkan sikap.
Harus jelas bahwa tidak ada cara di mana orangorang dapat dipaksa untuk
mempunyai sikap yang berbeda. Perubahan perilaku menumbuhkan perubahan siswa
dalam memberikan pandangan dan ini muncul dari suatu wawasan yang baru dan
pengetahuan yang baru tentang situasi atau kepuasan atau ketidakpuasan yang telah
mereka peroleh dari pandangan khusus yang sebelumnya telah diyakini atau kombinasi
dari prosedur ini. Pengalaman belajar, selanjutnya, ditentukan sedemikian rupa untuk
memberikan jenisjenis kesempatan seperti ini untuk wawasan dan untuk kepuasan.
4. Pengalaman belajar dalam mengembangkan minat.
Minat yang berkenaan dengan pendidikan baik sebagai tujuan akhir dan makna; yaitu,
sebagai tujuan dan sebagai kekuatan yang memotivasi dalam hubungannya dengan
pengalaman untuk mencapai tujuan. Bagaimanapun juga, pada poin ini, kita
mempertimbangkan minat sebagai suatu jenis tujuan. Minat seringkali ditekankan sebagai
tujuan pendidikan yang penting karena apa yang menarik bagi seseorang sebagian besar
menentukan apa yang dia tuju dan seringkali apa yang dia lakukan. Oleh karena itu,
minat cenderung memfokuskan perilaku pada arah khusus bukan yang lainnya dan hal
itulah penentu yang sangat kuat dari jenis setiap orang.
8
Persyaratan pokok dari pengalaman belajar dirancang untuk mengembangkan minat
yaitu pengalaman tersebut membuat siswa dapat untuk mengasalkan kepuasan dari
bidang pengalaman di mana minat dikembangkan. Oleh karena itu, pengalaman belajar
untuk mengembangkan minat harus memberikan kepada para siswa suatu kesempatan
untuk menyelidiki bidangbidang di mana minat harus dikembangkan dan mempunyai
hasil yang memuaskan dari penyelidikan ini. Kepuasan dapat tumbuh dari beberapa
sumber. Ada yang disebut kepuasan fundamental yang ruparupanya menjadi pokok bagi
semua orang. Ini meliputi halhal seperti misalnya kepuasan dari pengakuan sosial;
kepuasan dari terpenuhinya kebutuhan fisik seperti makanan, istirahat, dan sejenisnya;
kepuasan dari keberhasilan, yaitu memperoleh aspirasi seseorang dan sebagainya.
Bilamana memungkinkan, maka, pengalaman belajar yang memberikan kesempatan bagi
siswa untuk memperoleh kepuasan fundamental ini agaknya juga mengembangkan minat
dalam kegiatan ini.
Basis yang kedua di mana suatu kegiatan dapat terpenuhi ialah menghubungkannya
dengan beberapa pengalaman lainnya yang memuaskan. Penggunaan simbolsimbol yang
dilakukan secara emosional, penentuan suatu kegiatan individual di dalam konteks dari
suatu kegiatan sosial adalah merupakan ilustrasi tentang usaha untuk menghubungkan
suatu kegiatan khusus yang bukan memuaskan secara fundamental didalamnya sendiri
dengan sesuatu yang memuaskan sehingga pengaruh emosional akan terlampaui dan
mengembangkan kepuasan dalam sesuatu yang dihubungkan dengan hal itu. Oleh karena
itu, para remaja yang tidak memperoleh kepuasan fundamental dari membaca, misalnya,
bisa diarahkan untuk menikmati membaca melalui menentukannya dalam suatu situasi
yang memuaskan atau dalam menghubungkan membaca dengan pengalaman yang dapat
dinikmati.
Dengan anakanak yang lebih muda yang mempunyai kondisi kesehatan yang bagus,
kebutuhan untuk kegiatan sebagian besar dapat diharapkan mendukung kepuasan
dengan penyelidikan yang luas tentang berbagai jenis kegiatan. Hingga minat mereka
dipersempit dan disalurkan, jenis kegiatan tersebut ruparupanya memperoleh kepuasan
dari sensasisensasi halus dan dari berbagai kegiatan bebas. Kepuasan dari keingintahuan
juga memuaskan bagi anakanak oleh karena itu, adalah suatu hal yang memungkinkan
dalam bekerja dengan para remaja kelompok umur untuk mengharapkan pada
penyelidikan harus karena memberikan dasar bagi kepuasan yang meningkatkan selama
penyelidikan tersebut tidak menyangkal kepuasan fundamental, seperti misalnya,
memberikan arti kegagalan kepada siswa atau ditertawakan, atau dengan caracara lain
membuat kegiatan tersebut tidak memuaskan karena memberikan hasil negatif kepada
dia.
Problem yang paling sulit dalam menentukan pengalaman belajar untuk mencoba
membuat menarik jenis kegiatan yang telah semakin membosankan atau tidak nyaman
bagi siswa. Kegiatan seperti itu tidak lagi menarik perhatian melalui pengulangan secara
halus. Perlu untuk menggunakan suatu pendekatan yang baru agar dapat mengalihkan
miant. Pendekatan baru tersebut bisa meliputi penggunaan materi yang sama sekali
berbeda atau bisa melalui penempatan pengalaman belajar dalam suatu konteks yang
sama sekali baru yang nyaman bagi siswa.
Mungkin keempat ilustrasi ini cukup untuk menggambarkan cara dimana kita dapat
mengerjakan daftar karakteristik yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang
dapat digunakan dalam kaitannya dengan satu jenis tujuan utama. Dalam perencanaan
kurikulum analisis jenis ini harus dibuat untuk setiap jenis tujuan perilaku. Analisis
9
seperti itu akan membantu mengklarifikasikan definisi lebih lanjut tentang perilaku dan
akan sangat membantu dalam penyeleksian pengalaman belajar.
Kenyataan bahwa terdapat banyak pengalaman belajar yang dapat digunakan untuk
mencapai suatu tujuan tertentu dan bahwa pengalaman yang sama seringkali dapat
digunakan untuk mencapai beberapa tujuan yang berarti bahwa proses perencanaan
pengalaman belajar bukan merupakan suatu metode makanis dari penentuan pengalaman
yang digambarkan secara tertentu untuk setiap tujuan khusus. Akan tetapi proses tersebut
adalah yang lebih kreatif; ketika guru menentukan tujuan yang diinginkan dan
menggambarkan tentang jenis pengalaman yang dapat terjadi kepadanya atau dia telah
mendengar bahwa orang lain menggunakannya, dia mulai memikirkan tentang
serangkaian kemungkinan tentang halhal yang dapat dilakukan, kegiatan yang mungkin
dilaksanakan, bahanbahan yang mungkin digunakan. Ketika hal ini telah terbentuk
dalam pikirannya, akan lebih baik untuk menulisnya sebagai pengalaman belajar yang
memungkinkan. Ketika dia menulisnya, mereka bisa membuat secara garis besar secara
lebih terinci untuk menunjukkan bahwa apa yang ditulis akan dimasukkan. Draft tentang
pengalaman belajar tertentu secara uji coba tersebut sebaiknya diperiksa lagi secara hatihati
terhadap tujuan yang diinginkan untuk melihat terlebih dahulu apakah pengalaman
yang diajukan tersebut memberikan suatu kesempatan atau tidak bagi siswa untuk
melaksanakan jenis perilaku yang dicantumkan oleh tujuan. Selanjutnya yang kedua,
pengalaman belajar yang diajukan dapat diperiksa kembali dengan kriteria tentang
pengaruhnya. Apakah pengalaman yang digambarkan tersebut akan memuaskan bagi
siswa khusus menurut apa yang telah direncanakan? Jika tidak menghasilkan pengaruh
yang memuaskan, agaknya tidak ada kecenderungan untuk menghasilkan hasil yang
diinginkan. Yang ketiga, pengalaman belajar yang diajukan dapat dicek dalam hal
kesiapannya. Apakah memerlukan tindakan dimana para siswa belum mempunyai
kesiapan atau mampu melaksanakannya? Apakah mereka menahan bantahan terhadap
prasangka atau pikiran yang ada pada para siswa? Akhirnya, hal tersebut dapat diperiksa
dari segi ekonomi untuk pelaksanaanya. Apakah pengalaman yang diberikan untuk
pencapaian beberapa tujuan saja? Setelah mengecek pengalaman belajar dengan kriteria
umum ini, selanjutnya lebih baik mengeceknya juga tentang beberapa karakteristik yang
lebih yang dicantumkan di dalam generalisasi tentang karakteristik dari pengalaman
belajar yang diisyaratkan untuk jenis tujuan yang berbedabeda. Jika rumusan secara uji
coba tentang pengalaman tersebut memenuhi kriteria ini secara memuaskan, maka akan
kelihatan menjadi suatu perencanaan yang menjanjikan untuk dikembangkan. Jika
sebagian dari kriteria tidak terpenuhi dengan baik, mungkin ada kemungkinan untuk
direvisi agar membuat pengalaman tersebut lebih efektif. Jika pengalaman sebagian besar
tidak memadai dalam hal kriteria ini, maka rumusan tentatif tersebut harus dibuang dan
yang lainnya dikembangkan. Dengan cara ini proses penyeleksian pengalaman belajar
memberikan kesempatan untuk proposal yang selanjutnya diperiksa secara hatihati
tentang kriteria yang tepat. Sebagai hasilnya, ada kesempatan bagi keartisan dan evaluasi
yang cermat sebelumnya untuk menentukan perencanaan tertentu untuk program
intruksional.
D. Mengorganisasikan Pengalaman Belajar
Menurut Sanjaya pengorganisasian pengalaman belajar dapat dibedakan menjadi dua,
yaitu pengorganisasian secara vertikal dan pengorganisasian secara horizontal.
Pengorganisasian secara vertikal apabila menghubungkan pengalaman belajar dalam satu
kajian yang sama dalam tingkat yang berbeda. Misalnya, pengorganisasian pengalaman
10
belajar yang menghubungkan antara bidang geografi di kelas lima dan geagrafi di kelas
enam. Sedangkan pengorganisasian secara horizontal jika kita menghubungkan
pengalaman belajar dalam bidang geografi dan sejarah dalam tingkat yang sama. Kedua
hubungan ini sangat penting dalam proses mengorganisasikan pengalaman belajar.
Misalnya, hubungan vertikal akan memungkinkan siswa memiliki pengalaman belajar
yang semakin luas dalam kajian yang sama; sedangkan hubungan horizontal antara
pengalaman belajar yang satu dan yang lain akan saling mengisi dan memberikan
penguatan.
Ada tiga prinsip menurut Tyler dalam mengorganisasikan pengalaman belajar, yaitu
kontinuitas, urutan isi, dan integrasi.
Prinsip kontinuitas ada yang bersifat vertikal dan horizontal. Bersifat vertikal artinya
bahwa pengalaman belajar yang diberikan harus memiliki kesinambungan yang
diperlukan untuk pengembangan pengalaman belajar selanjutnya. Contohnya, apabila
anak diberikan pengalaman belajar tentang pengembangan kemampuan membaca bahanbahan
pelajaran studi sosial maka harus diyakini bahwa pengalaman belajar tersebut akan
dibutuhkan untuk mengembangkan keterampilan berikutnya, seperti keterampilan
memecahkan masalahmasalah sosial.
Prinsip kontinuitas yang bersifat horizontal artinya bahwa suatu pengalaman belajar
yang diberikan kepada siswa harus memiliki fungsi dan bermanfaat untuk memperoleh
pengalaman belajar dalam bidang lain. Contohnya, pengalaman belajar dalam bidang
aritmatika harus dapat membantu untuk memperoleh pengalaman belajar dalam bidang
ekonomi atau dalam bidang IPA.
Prinsip urutan isi sebenarnya erat hubungannya dengan kontinuitas, perbedaannya
terletak pada tingkat kesulitan dan keluasan bahasan. Artinya, setiap pengalaman belajar
yang diberikan kepada siswa harus memperhatikan tingkat perkembangan siswa.
Pengalaman belajar yang diberikan di kelas lima harus berbeda dengan pengalaman
belajar pada tingkat selanjutnya.
E. Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran untuk Memberikan Pengalaman Belajar
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang
melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antarpeserta didik, peserta didik
dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian
kompetensi dasar. Pengalaman belajar yang dimaksud dapat terwujud melalui
penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik.
Pengalaman belajar memuat kecakapan hidup yang perlu dikuasai peserta didik.
Pengalaman belajar itu dirancang atau dirumuskan sedemikian rupa sehingga peserta
didik tampil sebagai subjek belajar. Pengalaman itu hendaklah memperlihatkan
keterlibatan fisik dan mentalnya. Selain itu juga menggambarkan interaksi antarpeserta
didik, antara peserta didik dengan pendidik, antara peseta didik dengan lingkungan, dan
antara peserta didik dengan sumber belajar. Hal sangat penting dalam mengembangkan
kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. kegiatan pembelajaran disusun untuk memberikan bantuan kepada para pendidik,
khususnya guru, agar dapat melaksanakan proses pembelajaran secara profesional;
2. kegiatan pembelajaran memuat rangkaian kegiatan yang harus dilakukan oleh peserta
didik secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar melalui pencapaian
indikator;
3. penentuan urutan kegiatan pembelajaran harus sesuai dengan hierarki konsep materi
pembelajaran;
11
4. rumusan pernyataan dalam kegiatan pembelajaran minimal mengandung dua unsur
penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar peserta didik, yaitu
kegiatan peserta didik dan materi pembelajaran
Rangkuman
Pengalaman belajar adalah interaksi antara siswa dan kondisi eksternal di lingkungan
tempat ia bereaksi. Dengan demikian, belajar pada hakikatnya adalah tindakan aktif siswa
sebagai konsekuensi dari reaksinya terhadap kondisi interaksional yang ada pada
lingkungannya. Aktivitas belajar akan tercipta jika siswa berada pada suatu lingkungan
yang memungkinkannya untuk bereaksi dan melakukan tindakantindakan serta
mendapatkan pengalamanpengalaman. Partisipasi aktif dari siswa inilah yang
mendukung efisiensi dan efektifitas peranan belajar dalam pembinaan kompetensi siswa.
Pengalaman belajar menunjuk kepada aktivitas siswa di dalam proses pembelajaran.
Pengalamanpengalaman belajar sangatlah banyak dan beragam. Namun, tidak semua
pengalaman belajar dapat digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Karena itu,
pengalamanpengalaman belajar yang ada perlu diseleksi berdasarkan jenis tujuan yang
ditentukan. Ada beberapa prinsip umum yang diterapkan dalam penyeleksian
pengalaman belajar. Pertama, siswa harus mempunyai pengalaman yang memberikan
kesempatan kepadanya untuk melatih diri dalam jenis perilaku yang dijelaskan dalam
tujuan. Kedua ialah bahwa pengalaman belajar harus mampu mengkondisikan siswa
untuk memperoleh kepuasan dari pelaksanaan perilaku yang dicantumkan dalam tujuan.
Ketiga ialah bahwa reaksi yang dinginkan dalam pengalaman belajar berada dalam
kisaran kemungkinan bagi siswa yang bersangkutan. Keempat ialah bahwa banyak
pengalaman khusus yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang
sama. Kelima ialah bahwa pengalaman belajar yang sama biasanya akan menghasilkan
beberapa hasil.
Sanjaya menguraikan tentang beberapa prinsip engembangan pengalaman belajar.
Pertama, pengalaman siswa harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Setiap tujuan
akan menentukan pengalaman belajar. Kedua, setiap pengalaman belajar harus
memuaskan siswa. Ketiga, setiap rancangan pengalaman belajar sebaiknya melibatkan
siswa. Keempat, mungkin dalam satu pengalaman belajar dapat mencapai tujuan yang
berbeda.
Terdapat beberapa bentuk atau karakteristik pengalaman belajar yang dapat
dikembangkan, misalnya pengalaman belajar untuk mengembangkan kemampuan
berpikir siswa, pengalaman belajar untuk membantu siswa dalam mengumpulkan
sejumlah informasi, pengalaman belajar untuk membantu mengembangan sikap sosial,
dan pengalaman belajar untuk membantu mengembangkan minat.
Ada dua cara pengorganisasian pengalaman belajar, yaitu pengorganisasian secara
vertikal dan pengorganisasian secara horizontal. Pengorganisasian secara vertikal apabila
menghubungkan pengalaman belajar dalam satu kajian yang sama dalam tingkat yang
berbeda. Sedangkan pengorganisasian secara horizontal jika menghubungkan
pengalaman belajar dalam bidang geografi dan sejarah dalam tingkat yang sama. Kedua
hubungan ini sangat penting dalam proses mengorganisasikan pengalaman belajar.
Misalnya, hubungan vertikal akan memungkinkan siswa memiliki pengalaman belajar
yang semakin luas dalam kajian yang sama; sedangkan hubungan horizontal antara
pengalaman belajar yang satu dan yang lain akan saling mengisi dan memberikan
penguatan.
12
Ada tiga prinsip dalam mengorganisasikan pengalaman belajar, yaitu kontinuitas,
urutan isi, dan integrasi. Prinsip kontinuitas ada yang bersifat vertikal dan horizontal.
Bersifat vertikal artinya bahwa pengalaman belajar yang diberikan harus memiliki
kesinambungan yang diperlukan untuk pengembangan pengalaman belajar selanjutnya.
Prinsip kontinuitas yang bersifat horizontal artinya bahwa suatu pengalaman belajar yang
diberikan kepada siswa harus memiliki fungsi dan bermanfaat untuk memperoleh
pengalaman belajar dalam bidang lain. Prinsip urutan isi sebenarnya erat hubungannya
dengan kontinuitas, perbedaannya terletak pada tingkat kesulitan dan keluasan bahasan.
Pengalaman belajar itu dirancang atau dirumuskan sedemikian rupa sehingga peserta
didik tampil sebagai subjek belajar. Pengalaman itu hendaklah memperlihatkan
keterlibatan fisik dan mentalnya. Selain itu juga menggambarkan interaksi antarpeserta
didik, antara peserta didik dengan pendidik, antara peseta didik dengan lingkungan, dan
antara peserta didik dengan sumber belajar.
Daftar Pustaka
Dewey, John. (1916), “Aims in Education” dalam Democracy and Education. Tanpa penerbit.
Ditjen Dikdas dan Dikmenum. (2006), Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar.
Furchan, Arief, dkk. (2005), Pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi di Perguruan Tinggi
Agama Islam, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Haryati, Mimin. (2007), Model dan Teknik Penilaian pada Tingkat Satuan Pendidikan, Jakarta:
Gaung Persada Press.
Sanjaya, Wina. (2009)., Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: Kencana Prenada.
Tyler, W. Ralph. (2005) Paradigma Kurikulum dan Pembelajaran Antisipatoris: Masyarakat Global,
disadur oleh H.M. Djunaidi Ghony dari Basic Principles of Curriculum and Instruction,
Malang: Kutub Monar.


























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar