My Profile

Foto saya
Lamongan jawa timur, Indonesia
Jangan lihat aku dari luar..............!!!!!

Kamis, 10 November 2011

Makalah 13 Nov 2011


 HAKEKAT KURIKULUM
 Pemakalah :
M Hamim Sya’roni
Syuroto

A. Pengertian Kurikulum
Kata Kurikulum memiliki banyak arti yang berbeda tergantung dari posisi seseorang
dalam sistim pendidikan. Sebagai contoh, seorang pembuat kurikulum akan melihatnya
sebagai suatu rencana untuk pengalaman kurikulum di sekolah (Yang ideal); seorang
guru akan melihatnya sebagai pemerintah atau orang yang biasanya berada di luar ruang
kelas yang mengatakan padanya untuk mengajar (mempraktekkan); seorang siswa akan
melihatnya sebagai apa yang harus saya pelajari untuk lulus sekolah atau madrasah
(kenyataan) dan orang tua melihatnya sebagai apa yang sebenarnya telah dipelajari oleh
anak saya di sekolah (prestasi). Pihak lain mungkin akan melihatnya sebagai buku atau
materi untuk guru dan siswa.
Banyak pengertian kurikulum yang dapat ditemukan dalam literatur kependidikan
(educational publications) yang beberapa di antaranya memiliki pandangan yang lebih
terfokus dibanding yang lain. Pada dasarnya tak ada suatu definisi yang sangat rinci.
Istilah kurikulum digunakan pertama kali pada dunia olahraga pada zaman Yunani
Kuno yang berasal dari kata curir dan curere, yang artinya jarak yang harus ditempuh
oleh seorang atlit. Pada waktu itu, orang mengistilahkannya dengan tempat berpacu atau
tempat berlari dari mulai start sampai finish.(Wina (Sanjaya, 2009: 1) Istilah kurikulum
kemudian digunakan dalam dunia pendidikan
Dalam dunia pendidikan, para ahli memiliki pandangan yang beragam tentang
kurikulum. Pengertian kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan praktik
dan teori pendidikan. Dalam pandangan lama, kurikulum dipandang sebagai kumpulan
mata pelajaran yang harus disampaikan oleh guru atau dipelajari oleh siswa.
(Sukmadinata, 2001: 4). Pelajaranpelajaran dan materi apa yang harus ditempuh di
sekolah atau madrasah, itulah kurikulum.
Kurikulum dalam arti sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh murid,
menurut Oemar Hamalik (1993: 18), mempunyai implikasi bahwa mata pelajaran pada
hakekatnya adalah pengalaman masa lampau, dan tujuan mempelajarinya adalah untuk
memperoleh ijazah. Pengertian kurikulum yang dianggap tradisional ini, Menurut S.
Nasution (2008: 9), masih banyak dianut sampai sekarang termasuk juga di Indonesia,
bahkan masih mewarnai kurikulum yang berlaku dewasa ini.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak pada pergeseran fungsi
sekolah. Seiring dengan perkembangan informasi dan teknologi sekolah tidak saja
dituntut untuk membekalai berbagai macam ilmu pengetahuan yang sangat cepat
berkembang, tetapi juga dituntut untuk dapat mengembangkan minat dan bakat,
membentuk moral kepribadian, bahkan berbagai macam ketrampilan yang dibutuhkan
untuk memenuhi dunia kerja. Pergeseran fungsi sekolah tersebut berdampak pada
pergeseran makna kurikulum, di mana kurikulum tidak lagi dipandang sebagai mata
pelajaran, akan tetapi dianggap sebagai pengalaman belajar siswa.
Sebagaimana dijelaskan oleh William F. Pinar dalam bukunya What is Curriculum
Theory , yang menjelaskan bahwa kurikulum pada saat ini adalah dimaknai sebagai
pengalaman belajar. Pergeseran makna ini disebabkan pengaruh humanisme, seni, dan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam pandangan modern, pengertian kurikulum lebih dianggap sebagai suatu
pengalaman atau sesuatu yang nyata terjadi dalam proses pendidikan, seperti
dikemukakan oleh Caswel dan Campbell sebagai mana dikutip Wina Sanjaya (2009:6)
yang mengatakan bahwa kurikulum adalah ”… all the experiences children have under the
2
guidence of teacher. Dipertegas lagi oleh pemikiran Ronald C. Doll (1974) yang
mengatakan bahwa : “ …the curriculum has changed from content of courses study and list of
subject and courses to all experiences which are offered to learners under the auspices or direction
of school.
Selain itu, kurikulum dalam pandangan modern juga berarti pada methodology.
Misalnya, Hilda Taba dalam bukunya Curriculum Development, menuliskan “Curriculum
is, after all, a way of preparing young people to participate as productive members of our
culturer”. Artinya, kurikulum adalah cara mempersiapkan manusia untuk berpartisipasi
sebagai anggota yang produktif dari suatu budaya.
Pada tingkat lain, kurikulum adalah praktik. Kurikulum merupakan hal yang sengaja
kita lakukan di sekolah. Kurikulum merupakan kenyataan dari pertukaran antara guru
dan siswa, para siswa dan siswa dengan materi belajar.
Sesuai penjelasan David Pratt dalam Tim MEDP (2008: 15), yang menyatakan bahwa:
A curriculum is an organized set of formal educational and or training intentions”. Artinya,
kurikulum adalah seperangkat organisasi pendidikan formal atau pusatpusat latihan.
Selanjutnya ia membuat implikasi secara lebih eksplisit tentang definisi yang
dikemukakannya tersebut menjadi enam hal, yaitu:
1. Kurikulum adalah suatu rencana atau intentions, ia mungkin hanya berupa
perencanaan (mental) saja, tapi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk tulisan;
2. Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan perencanaan atau rancangan kegiatan;
3. Kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah apa yang harus dikembangkan
pada diri siswa, evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar, bahan dan peralatan yang
dipergunakan, kualitas guru yang dituntut, dan sebagainya;
4. Kurikulum melibatkan maksud atau pendidikan formal, maka ia sengaja
mempromosikan belajar dan menolak sifat rambang, tanpa rencana, atau kegiatan
tanpa belajar;
5. Sebagai perangkat organisasi pendidikan, kurikulum menyatukan berbagai
komponen seperti tujuan, isi, sistem penilaian dalam satu kesatuan yang tak
terpisahkan atau dengan kata lain, kurikulum adalah suatu sistem;
6. Pendidikan dan latihan dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman yang
terjadi jika suatu hal dilalaikan
Menjembatani beragamnya pengertian kurikulum tersebut di atas S. Nasution
(2008:9) menyatakan bahwa kurikulum dapat ditinjau sebagai berikut:
1. Kurikulum dapat dilihat sebagai produk, yakni sebagai hasil karya para pengembang
kurikulum, biasanya dalam suatu panitia. Hasilnya dituangkan dalam bentuk buku
atau pedoman kurikulum, misalnya berisi sejumlah mata pelajaran yang harus
diajarkan.
2. Kurikulum dapat pula dipandang sebagai program, yakni alat yang dilakukan oleh
sekolah atau madrasah untuk mencapai tujuannya. Ini dapat berupa mengajarkan
berbagai mata pelajaran tetapi dapat juga meliputi segala kegiatan yang dianggap
dapat mempengaruhi perkembangan siswa misalnya perkumpulan sekolah atau
madrasah, pertandingan, pramuka, warung sekolah atau madrasah dan lainlain.
3. Kurikulum dapat pula dipandang sebagai halhal yang diharapkan akan dipelajari
siswa, yakni pengetahuan, sikap, keterampilan tertentu. Apa yang diharapkan akan
dipelajari tidak selalu sama dengan apa yang benarbenar dipelajari.
4. Kurikulum sebagai pengalaman siswa. Ketiga pandangan di atas berkenaan dengan
perencanaan kurikulum sedangkan pandangan ini mengenai apa yang secara aktual
3
menjadi kenyataan pada tiap siswa. Ada kemungkinan, bahwa apa yang diwujudkan
pada diri anak berbeda dengan apa yang diharapkan menurut rencana.
Dari beberapa definisi kurikulum yang telah disebutkan di atas bisa diambil
kesimpulan, bahwa kurikulum merupakan pengalaman peserta didik baik di sekolah
atau madrasah maupun di luar sekolah di bawah bimbingan sekolah. Kurikulum tidak
hanya terbatas pada mata pelajaran, tetapi meliputi segala sesuatu yang dapat
mempengaruhi perkembangan peserta didik, dan bisa menentukan arah atau
mengantisipasi sesuatu yang akan terjadi. Dengan kata lain kurikulum haruslah
menunjukkan kepada apa yang sebenarnya harus dipelajari oleh peserta didik
B. Fungsi Kurikulum
Fungsi kurikulum mempunyai arti sebagai berikut:
1. Sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan pada suatu tingkatan lembaga
pendidikan tertentu dan untuk memungkinkan pencapaian tujuan dari lembaga
pendidikan tersebut.
2. Sebagai batasan daripada program kegiatan (bahan pengajaran) yang akan dijalankan
pada suatu semester, kelas, maupun pada tingkat pendidikan tersebut.
3. Sebagai pedoman guru dalam menyelenggarakan Proses Belajar Mengajar, sehingga
kegiatan yang dilakukan guru dengan murid terarah kepada tujuan yang ditentukan.
(Tim MEDP, 2008: 17).
Menurut Sutopo dan Soemanto sebagaimana dikutip oleh Muhammad Joko Susilo
(2007:8384), kurikulum berfungsi:
1. Kurikulum dalam rangka mencapai tujuan. Bila tujuan pendidikan yang diinginkan
tidak tercapai orang cenderung meninjau kembali alat yang digunakan untuk
mencapai tujuan tersebut.
2. Bagi siswa kurikulum berfungsi sebagai organisasi belajar yang harus dikuasai dan
dikembangkan seirama perkembangan siswa.
3. Bagi guru, kurikulum berfungsi (a) sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan
mengorganisir pengalaman belajar siswa; (b) sebagai alat untuk mengadakan evaluasi
perkembangan siswa; dan (c) sebagai pedoman dalam mengatur kegiatan pendidikan.
4. Bagi kepala sekolah dan pembina sekolah, kurikulum berfungsi (a) sebagai pedoman
dalam melaksanakan fungsi supervisi, yaitu memperbaiki situasi belajar; (b) sebagai
pedoman untuk fungsi supervisi dalam menciptakan situasi untuk menunjang situasi
belajar; dan (c) sebagai pedoman dalam fungsi supervisi untuk membantu guru dalam
memperbaiki situasi belajar; dan (4) sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi
kemajuan belajar mengajar.
5. Bagi orang tua murid, kurikulum berfungsi sebagai panduan untuk membantu anak.
6. Bagi sekolah pada tingkatan di atasnya, kurikulum berfungsi sebagai pemeliharaan
keseimbangan proses pendidikan dan penyiapan tenaga guru.
7. Bqgi masyarakat dan pemakai lulusan sekolah, kurikulum berfungsi dalam
memberikan bantuan guru dalam memperlancar pelaksanaan program pendidikan
yang membutuhkan kerja sama dengan pihak orang tua/masyarakat untuk
menyempurnakan program pendidikan di sekolah agar bisa lebih serasi dengan
kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
4
C. Komponen Kurikulum
Dalam melihat komponen kurikulum, orang bisa mengajukan beberapa pertanyaan
sebagaimana dikemukakan oleh Ralph W. Tyler dalam bukunya Basic Principle of
Curriculum and Instruction sebagaimana dikutip oleh Nasution (2008: 17), yaitu:
1. Tujuan apa yang harus dicapai sekolah atau madrasah?
2. Bagaimana memilih bbahan pelajaran untuk mencapai tujuan sekolah atau
madrasah?
3. Bagaimanakah bahan disajikan agar efektif diajarkan?
4. Bagaimanakah efektivitas belajar dapat dinilai?
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa suatu kurikulum terdiri dari atas
komponenkomponen: 1. tujuan, 2. isi, 3. metode atau proses belajar mengajar, dan 4.
evaluasi. Setiap komponen kurikulum tersebut, sebenarnya saling berkaitan, bahkan
masingmasing merupakan bagian integral dari kurikulum tesebut. Saling keterkaitan
antar komponen tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut:
Tanda panah dua arah melambangkan interelasi antar komponen kurikulum. Gambar
tersebut menunjukkan hubungan yang nampaknya mudah. Namun, namun sebenarnya
tidak mudah dalam pelaksanaan pengembangan kurikulum, apalagi dalam mencapai
tujuantujuan yang bersifat umum, terutama dalam ranah afektif. Dalam pengembangan
kurikulum, menyiapkan ranah afeksi, seperti perasaan,motivasi, dan sikap tidak
menentukannya dan juga tidak mudah dalam menentukan proses belajar mengajarnya.
Sedangkan untuk menentukan ranah kognitif, seperti pengetahuan dan informasi,
relatif mudah dalam penerapan antar komponenkomponen tersebut. Akan tetapi, jika
dihubungkan dengan ketercapaian tujuan pendidikan nasional, persoalannya semakin
pelik dan setiap komponen ternyata mengandung masalah yang kompleks, apalagi jika
dikaitkan dengan komponenkomponen lainya.
Berkaitan dengan empat komponen kurikulum di atas, perlu dikemukakan
pertanyaanpertanyaan berikut (Tim MEDP, 2008:1718):
Pertama, bagaimana pendapat Islam tentang tujuan pendidikan? Pertanyaan ini
penting dikemukakan karena Islam merupakan dasar bagi umat Islam dalam
mengislamkan berbagai mata pelajaran
Kedua, Bagaimana pula pendapat Islam tentang pengetahuan (knowledge), yang
dikenal mata pelajaran? Adakah pengetahuan menurut falsafah Islam berbeda ataukah
sama saja dengan pengetahuan dalam falsafah lainnya?
Ketiga, Adakah metodologi pendidikan menurut pandangan Islam berbeda ataukah
sama saja dengan metodologi dalam falsafah lainnya?
Keempat, Apakah penilaian menurut pandangan Islam berbeda dengan pandangan
falsafahfalsafah lain?
Tujuan
Penilaian Bahan pelajaran
Prose pembelajaran
5
Pertanyaanpertanyaan kritis yang dikedepankan di atas berupaya untuk menggali
sejauh manakah khasanah pemikiran pendidikan Islam kaitannya dengan problemaproblema
mendasar dalam pendidikan.
D. JenisJenis Kurikulum
Terdapat beberapa konsepsi tentang kurikulum. Paling tidak ada empat sudut
pandang tentang kurikulum, yaitu kurikulum subyek akademik, kurikulum humanistik,
kurikulum rekonstruksi sosial, dan kurikulum teknologis. Kurikulum subyek akademik
dirancang berdasarkan pohon ilmu dan bagaimana mendalami bidang ilmu tersebut.
Daya serap kurikulum maupun hasil belajar kemudian diukur dari seberapa banyak
siswa menguasai bidang ilmu yang diterjemahkan pada bentuk pokok bahasan
matapelajaran. Sasaran utama model kurikulum ini perkembangan kemampuan
intelektual. Suatu pengetahuan dapat digunakan dalam konteks lain dari pada sekedar
yang dipelajarinya, dapat merangsang ingatan apabila siswa diminta untuk
menghubungkannya dengan masalah lain. Penekanan pada segi intelektual ini dianut
oleh hampir seluruh proyek pengembangan kurikulum pada tahun 1960an di sekolahsekolah
negara bagian Amerika Serikat. Pada tahun 1970an pendekatan struktur
pengetahuan dalam pengembangan kurikulum ini mengalami kemunduran sebab para
ahli lebih tertarik pada pemecahan masalah kemanusian.
Para ahli humanistik memandang kurikulum berfungsi menyediakan pengalaman
berharga untuk membantu mengembangkan potensi siswa. Kurikulum humanistik
menekankan integrasi, yaitu kesatuan perilaku bukan saja yang bersifat intelektual,
tetapi juga emosional dan tindakan. Kurikulum harus mampu memberikan pengalaman
yang menyeluruh, bukan pengalaman yang terpenggalpenggal. Dalam evaluasi,
kurikulum humanistik lebih mengutamakan proses daripada hasil. Namun, model ini
tidak memiliki kriteria. Yang terpenting, siswa dapat mengembangkan potensipotensi
yang dimilikinya.
Berbeda dengan dua model diatas, kurikulum rekonstruksi sosial lebih memusatkan
perhatian pada problemaproblema yang dihadapinya dalam masyarakat. Siswa dengan
pengetahuan dan konsepkonsep yang diperolehnya dapat mengidentifikasi dan
memecahkan masalahmasalah sosial sehingga kurikulum berfungsi sebagai wahana
mengembangkan masyarakat. Hasil belajar diukur dari seberapa jauh konstruksi sikap
dan kemampuan yang diinginkan telah terwujud dalam diri siswa. Pandangan
rekonstruksi sosial dalam kurikulum dimulai sekitar tahun 1920an. Pengajaran
rekonstruksi sosial banyak dilaksanakan di daerahdaerah yang tergolong belum maju
dan tingkat ekonominya juga belum tinggi. Pelaksanaan pengajaran diarahkan untuk
meningkatkan kondisi kehidupan masyarakat. Di daerah pertanian sekolah
mengembangkan bidang pertanian dan peternakan, dan di daerah industri
mengembangkan bidangbidang industri.
Model kurikulum teknologis mempersiapkan siswa mengikuti perkembangan
teknologi, bahkan berperan serta dalam pengembangan teknologi. Aliran ini memiliki
kesamaan dengan pendidikan klasik yang menekankan isi kurikulum, tetapi diarahkan
bukan pada pemeliharaan dan pengawetan ilmu, tetapi pada penguasaan kompetensi.
Suatu kompetensi yang besar diuraikan dalam kompetensi yang lebih khusus dan
akhirnya menjadi perilakuperilaku yang dapat diamati dan dapat diukur.
Kurikulum Yang Disempurnakan (KYD) memiliki kedekatan dengan model
kurikulum teknologis. Kurikulum Yang Disempurnakan (KYD) memiliki kedekatan
dengan model kurikulum teknologis merupakan upaya pemerintah untuk mencapai
6
keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan ilmu dan teknologi. dan Kurikulum
Yang Disempurnakan (KYD) memiliki kedekatan dengan model kurikulum teknologis
diharapkan dapat dijadikan landasan dalam pengembangan dan peningkatan kualitas
pendidikan di Indonesia dan Kurikulum Yang Disempurnakan (KYD) memiliki
kedekatan dengan model kurikulum teknologis) menganut prinsip bahwa lulusan suatu
jenjang pendidikan tertentu harus memiliki kompetensi tertentu. Kompetensi adalah
perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan, sikap, dan nilai yang direfleksikan dalam
bertindak dan berpikir.
Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus dapat
memungkinkan seseorang untuk menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan,
keterampilan, dan nilainilai dasar untuk melakukan sesuatu. Dasar pemikiran untuk
menggunakan konsep kompetensi dalam kurikulum adalah sebagai berikut.
1. Kompetensi berkenaan dengan kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam
berbagai konteks.
2. Kompetensi menjelaskan pengalaman belajar yang dilalui siswa untuk menjadi
kompeten.
3. Kompetensi merupakan hasil belajar (learning outcomes) yang menjelaskan halhal
yang dilakukan siswa setelah melalui proses pembelajaran.
4. Kehandalan kemampuan siswa melakukan sesuatu harus didefinisikan secara jelas
dan luas dalam suatu standar yang dapat dicapai melalui kinerja yang dapat diukur.
Kurikulum Yang Disempurnakan (KYD) memiliki kedekatan dengan model
kurikulum teknologis merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang
kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar
mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan
kurikulum sekolah.
Kurikulum Yang Disempurnakan (KYD) memiliki kedekatan dengan model
kurikulum teknologis berorientasi pada: (1) hasil dan dampak yang diharapkan muncul
pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna, dan (2)
keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya. Rumusan
kompetensi dalam merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi,
atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah dan sekaligus
menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk
menjadi kompeten.
Kurikulum Yang Disempurnakan (KYD) memiliki kedekatan dengan model
kurikulum teknologis memiliki ciriciri sebagai berikut: Menekankan pada ketercapaian
kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal. Berorientasi pada hasil belajar
(learning outcomes) dan keberagaman. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan
pendekatan dan metode yang bervariasi. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga
sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Penilaian menekankan pada
proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
Sedangkan menurut Nasution (2008:176226) bentuk dan organisasi kurikulum
adalah sebagaimana berikut:
1. Separated subject curriculum (kurikulum mata pelajaran terpisah atau tidak menyatu).
Kurikulum ini dikatakan demikian karena datadata pelajaran disajikan pada
peserta didik dalam bentuk subjek atau mata pelajaran yang terpisah satu dengan
yang lainnya. Kurikulum ini dengan tegas memisahkan antara satu mata pelajaran
dengan yang lainnya, umpamanya mata pelajaran teori listrik tidak ada sangkut
pautnya dengan pengetahuan alat perkakas atau yang lainnya. Satu dengan yang
7
lainnya terpisahpisah secara tegas, demikian pula dalam menyajikannya kepada
peserta didik.
Kurikulum jenis ini memiliki keunggulan sebagai berikut:
a. Bahan pelajaran dapat disajikan secara logis, sistematis dan berkesinambungan.
Hal itu disebabkan tiap bahan telah disusun dan diuraikan secara logis dan
sistematis dengan mengikuti urutan yang tepat yaitu dari yang mudah ke yang
sukar, dari yang sederhana ke yang kompleks.
b. Organisasi kurikulum bentuk ini sangat sederhana, mudah direncanakan,
mudah dilaksanakan dan mudah pula untuk diadakan perubahan jika
diperlukan. Adanya kesederhanaan itu sangat diperlukan karena hal itu jelas
akan menghemat tenaga sehingga menguntungkan baik dari pihak
pengembang kurikulum itu sendiri maupun guru atau satuan pendidikan untuk
melaksanakannya.
c. Kurikulum ini mudah dinilai untuk mendapatkan datadata yang diperlukan
untuk dilakukan perubahan seperlunya. Karena kurikulum ini terutama
bertujuan untuk menyampaikan sejumlah pengetahuan maka hal itu dapat
dengan mudah diketahui hasilnya yaitu dengan melakukan pengukuran yang
berupa tes. Jika telah dirasa terdapat halhal yang tidak lagi sesuai dengan
tuntutan zaman dan kebutuhan masyarakat baik hal itu menyangkut seluruh
komponen maupun sebagian saja hal itupun akan dengan mudah diadakan
perubahan penyesuaian seperti yang diharapkan.
d. Memudahkan guru sebagai pelaksana kurikulum karena disamping bahan
pelajaran memang sudah disusun secara terurai dan sistematis, mereka
umumnya juga dididik dan dipersiapkan untuk melaksanakan kurikulum yang
bersifat demikian. Guru hanya mengajar bahanbahan pelajaran tertentu sesuai
dengan bidang studinya dari waktu ke waktu. Guru yang memegang mata
pelajaran yang sama secara terus menerus biasanya akan semakin menguasasi
bahan pelajaran itu dan semakin banyak pula pengalamannya.
Disamping ada keunggulankeunggulan kurikulum bentuk ini, ada pula kelemahankelemahannya,
antara lain:
a. Kurikulum bentuk ini memberikan mata pelajaran secara terpisah, satu dengan
yang lain tidak ada saling hubungan. Hal itu memungkinkan terjadinya
pemerolehan pengalaman secara lepaslepas tidak sesuai dengan kenyataan.
b. Kurikulum bentuk ini kurang memperhatikan masalahmasalah yang dihadapi
anak secara faktual dalam kehidupan mereka seharihari. Kurikulum ini hanya
sering mengutamakan penyampaian sejumlah pengetahuan yang kadangkadang
tidak ada relevansinya dengan kebutuhan kehidupan.
c. Cenderung statis dan ketinggalan zaman. Bukubuku pelajaran yang dijadikan
pegangan jika penyusunannya dilakukan beberapa atau bahkan puluhan tahun
yang lalu dan jika tidak dilakukan revisi untuk keperluan penyesuaian akan
ketinggalan zaman.
d. Tujuan kurikulum bentuk ini sangat terbatas karena hanya menekankan pada
perkembangan intelektual dan kurang memperhatikan faktorfaktor yang lain
seperti perkembangan emosional dan sosial.
8
2. Correlated curriculum (kurikulum korelatif atau pelajaran saling berhubungan).
Mata pelajaran dalam kurikulum ini harus dihubungkan dan disusun sedemikian
rupa sehingga yang satu memperkuat yang lain, yang satu melengkapi yang lain.
Jadi di sini mata pelajaran itu dihubungkan antara satu dengan yang lainnya
sehingga tidak berdiri sendirisendiri. Untuk memadukan antara pelajaran yang
satu dengan yang lainnya, ditempuh dengan caracara korelasi antara lain:
a. Korelasi okasional atau insidental, yaitu korelasi yang diadakan sewaktuwaktu
bila ada hubungannya.
b. Korelasi etis, yaitu yang bertujuan mendidik budi pekerti sebagai pusat
pelajaran diambil pendidikan agama atau budi pekerti.
c. Korelasi sistematis, yaitu yang mana korelasi ini disusun oleh guru sendiri.
d. Korelasi informal, yang mana kurikulum ini dapat berjalan dengan cara antara
beberapa guru saling bekerja sama, saling meminta untuk mengkorelasikan
antara mata pelajaran yang dipegang guru A dengan mata pelajaran yang
dipegang oleh guru B.
e. Korelasi formal, yaitu kurikulum ini sebenarnya telah direncanakan oleh guru
atau tim secara bersamasama.
f. Korelasi meluas (broad field), di mana korelasi ini sebenarnya merupakan fungsi
dari beberapa bidang studi yang memiliki ciri khas yang sama dipadukan
menjadi satu bidang studi.
Organisasi kurikulum yang disusun dalam bentuk correlated ini memiliki beberapa
keunggulan, antara lain:
a. Adanya korelasi antara berbagai mata pelajaran dapat menopang kebulatan
pengalaman dan pengetahuan peserta didik berhubung mereka menerimanya
tidak secara terpisahpisah.
b. Adanya korelasi antara berbagai mata pelajaran memungkinkan peserta didik
untuk menerapkan pengetahuan dan pengalamannya secara fungsional. Hal itu
disebabkan mereka dapat memanfaatkan pengetahuan dari berbagai mata
pelajaran untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapinya.
Adapun kurikulum correlated curriculum memiliki kelemahankelemahan antara lain:
a. Kurikulum bentuk ini pada hakekatnya masih bersifat subject centered dan
belum memilih bahan yang langsung dengan minat dan kebutuhan peserta
didik serta masalahmasalah kehidupan seharihari.
b. Penggabungan beberapa mata pelajaran menjadi satu kesatuan dengan lingkup
yang lebih luas tidak memberikan pengetahuan yang sistematis dan mendalam.
Pembicaraan tentang berbagai pokok masalah bagaimanapun juga tetap tidak
padu, karena pada dasarnya masingmasing merupakan subject yang berbeda.
Rasanya hampir tak mungkin mempergunakan waktu yang hanya sedikit itu
untuk memberikan berbagai pokok masalah yang sebenarnya berasal dari
beberapa mata pelajaran yang berbeda.
3. Integrated curriculum (kurikulum terpadu).
Integrated curriculum di sini sebenarnya beberapa mata pelajaran dijadikan satu atau
dipadukan. Dengan meniadakan batasbatas mata pelajaran dan bahan pelajaran
yang disajikan berupa unit atau keseluruhan. Unit merupakan satu kesatuan yang
bulat daripada bagianbagian yang tidak terpisah satu sama lain, melainkan
9
merupakan rangkaian daripada bagian yang bersatu padu dengan serasi.
Kurikulum ini memiliki beberapa keunggulan antara lain:
a. Segala hal yang dipelajari dalam kurikulum unit bertalian erat satu dengan
yang lain. Peserta didik tidak hanya mempelajari faktafakta yang lepaslepas
dan kurang fungsional untuk memecahkan persoalan yang dihadapi.
b. Kurikulum ini sesuai dengan teori baru tentang belajar yang mendasarkan
berbagai kegiatan pada pengalaman, kesanggupan, kematangan dan minat
peserta didik. Anak dilibatkan secara aktif untuk berpikir dan berbuat serta
bertanggung jawab baik secara individual maupun kelompok.
c. Dengan kurikulum ini lebih dimungkinkan adanya hubungan yang erat antara
madrasah dan masyarakat, karena masyarakat dapat dijadikan laboratorium
tempat peserta didik melakukan kegiatan praktek.
Disamping bentuk kurikulum ini memiliki keunggulan tetapi juga mengandung
beberapa kelemahan yang antara lain:
a. Kurikulum ini tidak mempuyai organisasi yang logis dan sistematis, karena
bahan pelajaran tidak ditentukan lebih dulu oleh guru atau lembaga melainkan
harus dirancang bersamasama dengan murid.
b. Para guru tidak dipersiapkan untuk menjalankan kurikulum bentuk unit, maka
jika mereka disuruh melaksanakan kurikulum itu kiranya sangat memberatkan.
Para guru pada umumnya dihasilkan dan dipersiapkan untuk menjalankan
kurikulum yang bersifat subject matter atau correlated saja.
c. Pelaksanaan kurikulum bentuk ini juga amat repot. Hal itu disebabkan karena
masih kurangnya berbagai peralatan dan sarana serta prasarana yang
dibutuhkan agar berbeda dengan sekolahsekolah biasa.
d. Dengan kurikulum bentuk unit ini tidak dapat dimungkinkan adanya ujian
umum karena permasalahan yang dihadapi di tiap madrasah tidak sama dan
selalu berubah tiap tahun. Di samping itu sulit mengukur kemampuan peserta
didik berhubung standarnya sendiri cukup abstrak dan tidak ajeg .
Pendidikan pada dasarnya merupakan interaksi antara pendidik dengan peserta
didik dalam rangka membantu peserta didik dalam menguasai materi pengajaran dan
mencapai tujuantujuan pendidikan. Interaksi pendidikan tersebut dapat berlangsung
dalam lingkungan keluarga, madrasah, dan masyarakat. Dengan demikian, setiap
pendidikan diarahkan pada pencapaian tujuantujuan tertentu, seperti penguasaan ilmu
pengetahuan, pengembangan pribadi, komunikasi sosial, dan kemampuan kerja.
Pendidikan memiliki makna strategis dan merupakan saluran penting yang dapat
mengungkap gagasan dan nilainilai baru sekaligus memiliki dampak yang cukup besar
bagi kehidupan masyarakat. Untuk mencapai tujuan pendidikan dan mengembangkan
kemampuankemampuan dasar peserta didik, maka diperlukan kurikulum, metode
penyampaian, media dan sumber belajar, serta alat evaluasi yang tepat.
Rangkuman
Kata Kurikulum memiliki banyak arti yang berbeda tergantung dari posisi dan sudut
padang dalam sistim pendidikan, seperti melihat kurikulum sebagai produk, proses,
seperangkat kemampuan yang harus dikuasai siswa, atau sebagai pengalaman siswa.
Perbedaan cara pandang terhadap kurikulum menyebabkan berbagai pengertian
10
kurikulum yang dapat ditemukan dalam literatur kependidikan (educational publications)
sebagai berikut:
1. Kurikulum adalah suatu rencana atau intentions, ia mungkin hanya berupa
perencanaan (mental) saja, tapi pada umumnya diwujudkan dalam bentuk tulisan;
2. Kurikulum bukanlah kegiatan, melainkan perencanaan atau rancangan kegiatan;
3. Kurikulum berisi berbagai macam hal seperti masalah apa yang harus
dikembangkan pada diri siswa, evaluasi untuk menafsirkan hasil belajar, bahan dan
peralatan yang dipergunakan, kualitas guru yang dituntut, dan sebagainya;
4. Kurikulum melibatkan maksud atau pendidikan formal, maka ia sengaja
mempromosikan belajar dan menolak sifat rambang, tanpa rencana, atau kegiatan
tanpa belajar;
5. Sebagai perangkat organisasi pendidikan, kurikulum menyatukan berbagai
komponen seperti tujuan, isi, sistem penilaian dalam satu kesatuan yang tak
terpisahkan atau dengan kata lain, kurikulum adalah suatu sistem;
6. Pendidikan dan latihan dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman yang
terjadi jika suatu hal dilalaikan.
Kurikulum memiliki fungsi yang berarti dalam pendidikan, yaitu dalam rangka
mencapai tujuan; sebagai pedoman penyelenggaraan pendidikan; dan sebagai batasan
dari pada program kegiatan (bahan pengajaran) yang akan dijalankan pada suatu
semester, kelas, maupun pada tingkat pendidikan tersebut. Bagi siswa kurikulum
berfungsi sebagai organisasi belajar yang harus dikuasai dan dikembangkan seirama
perkembangan siswa. Bagi guru, kurikulum berfungsi (a) sebagai pedoman kerja dalam
menyusun dan mengorganisir pengalaman belajar siswa; (b) sebagai alat untuk
mengadakan evaluasi perkembangan siswa; dan (c) sebagai pedoman dalam mengatur
kegiatan pendidikan. Bagi kepala sekolah dan pembina sekolah, kurikulum berfungsi (a)
sebagai pedoman dalam melaksanakan fungsi supervisi, yaitu memperbaiki situasi
belajar; (b) sebagai pedoman untuk fungsi supervisi dalam menciptakan situasi untuk
menunjang situasi belajar; dan (c) sebagai pedoman dalam fungsi supervisi untuk
membantu guru dalam memperbaiki situasi belajar; dan (4) sebagai pedoman untuk
mengadakan evaluasi kemajuan belajar mengajar. Bagi orang tua murid, kurikulum
berfungsi sebagai panduan untuk membantu anak. Bagi sekolah pada tingkatan di
atasnya, kurikulum berfungsi sebagai pemeliharaan keseimbangan proses pendidikan
dan penyiapan tenaga guru.
Komponen kurikulum pada dasarnya ada empat, yaitu tujuan, isi, proses belajar
mengajar, dan penilaian. Sedangkan jenis kurikulum, dilihat dari desainnya, terdiri dari
empat macam, yaitu kurikulum subyek akademik, kurikulum humanistik, kurikulum
rekonstruksi sosial, dan kurikulum teknologis. Dilihat dari bentuk dan organisasinya ada
tiga jenis kurikulum, yaitu:
1. Separated subject curriculum (kurikulum mata pelajaran terpisah atau tidak menyatu).
2. Correlated curriculum (kurikulum korelatif atau pelajaran saling berhubungan).
3. Integrated curriculum (kurikulum terpadu).
Daftar Pustaka
Mulyasa, E. (2002), Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasinya,
Bandung: Remaja Rosdakarya.
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐. (2004), Implementasi Kurikulum 2004: Panduan Pembelajaran KBK, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
11
‐‐‐‐‐‐‐‐‐‐. (2006), Kurikulum yang Disempurnakan: Pengembangan Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasution, S. (2008), AsasAsas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Isi.
Sanjaya, Wina. (2009)., Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: Kencana Prenada.
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2001), Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik, Bandung:
Rosdakarya.
Susilo, Muhammad Joko. (2007)., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Manajemen Pelaksanaan
dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya, Jakarta: Pustaka Pelajar.
Tim MEDP. (2008)., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: Direktorat Jenderal
Pendidikan Islam.
Wijaya, E. Juhana dan Tabrani Rusyan, 2003. Konsep dan Strategi Pelaksanaan Kurikulum Berbasis
Kompetensi. Jakarta: Intimedia.







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar