My Profile

Foto saya
Lamongan jawa timur, Indonesia
Jangan lihat aku dari luar..............!!!!!

Kamis, 10 November 2011

Makalah Ahad 27 Nov 2011

MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM

Pemakalah :
M Sholihin
Sugihanto
A. Pengertian Model Pengembangan Kurikulum
Menurut Good dan Travers dalam Sanjaya (2009:82) model adalah abstraksi dunia
nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis,
grafis, serta lambanglambang lainnya. Model bukanlah realitas, akan tetapi merupakan
representasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Model pada dasarnya berkaitan
dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menterjemahkan sesuatu kedalam
realitas, yang sifatnya lebih praktis. Dengan demikian, model pengembangan kurikulum
adalah rancangan pengembangan kurikulum yang dapat dilaksanakan dan diterjemahkan
ke dalam pembelajaran.
Selanjutnya, ia menjelaskan manfaat model adalah sebagai berikut:
1. Model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi manusia.
2. Model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan penelitian.
3. Model dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks.
4. Model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan.
Di samping itu, model berfungsi sebagai sarana untuk mempermudah berkomunikasi,
atau sebagai petunjuk yang bersifat perspektif untuk mengambil keputusan, atau sebagai
petunjuk perencanaan untuk kegiatan pengelolaan. Nadler, sebagaimana dikutip Sanjaya,
menjelaskan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong si pengguna
untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyeluruh.
Dalam pengembangan kurikulum, ada beberapa model yang dapat digunakan. Setiap
model memiliki kekhasan tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan kurikulumnya
itu sendiri maupun dilihat dari tahapan pengembangannya sesuai dengan
pendekatannya. Menurut Sukmadinata (2001:161) sekurangkurangnya dikenal model
pengembangan kurikulum, seperti the administrative (line staff) model, the grass roots model,
Bouchamp`s system, the demonstration model, Taba`a inverted model, Roger`s interpersonal
relations model, the systematic action research model dan emerging technical system. Sedangkan
Sanjaya (2009:8297) menjelaskan model pengembangan kurikulum sebagai berikut:
B. Model Pengembangan Kurikulum
1. Model Tyler
Pengembangan kurikulum model Tyler ini lebih bersifat bagaimana merancang suatu
kurikulum, sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan. Dengan demikian,
model ini tidak menguraikan pengembangan dalam bentuk langkahlangkah konkrit
atau tahapantahapan secara rinci. Tyler hanya memberikan dasardasar
pengembangannya saja. Proses pengembangan kurikulum model Tyler digambarkan
pada gambar berikut.
Objectives
Selecting learning
experiences
Organizing learning
experiences
Evaluation
What educational purposes should the school seek to
attain?
What educational experiences can be provided that are
likely to attain purpose?
How can educational experiences be effectively
organized?
How can we determine whether these purposess are
being attained?
Model Pengembangan Kurikulum Tyler
2
Menurut Tyler, ada empat hal yang dianggap fundamental untuk mengembangkan
kurikulum. Pertama, berhubungan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Kedua,
berhubungan dengan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan. Ketiga,
pengorganisasian pengalaman belajar. Keempat, berhubungan dengan evaluasi.
a. Menentukan Tujuan
Dalam penyusunan suatu kurikulum, merumuskan tujuan merupakan langkah
pertama dan utama yang harus dikerjakan. Sebab, tujuan merupakan arah atau
sasaran pendidikan. Hendak dibawa ke mana anak didik? Kemampuan apa yang
harus dimiliki anak didik setelah mengikuti program pendidikan? Semuanya
bermuara kepada tujuan.
Tyler memang tidak menjelaskan secara detail tentang sumber tujuan. Similarly,
some writers have argued that Tyler does’t adequately explain the source of objectives
(Skilbeck, 1976; Kliebard, 1970). Namun demikian, Tyler menjelaskan bahwa sumber
perumusan tujuan dapat berasal dari siswa, studi kehidupan masa kini, disiplin ilmu,
filosofis, dan psikologi belajar.
Merumuskan tujuan kurikulum sebenarnya sangat tergantung pada teori dan filsafat
serta model kurikulum yang dianut. Jika pengembangan kurikulum bersifat subjek
akademis, penguasaan berbagai konsep dan teori seperti yang tergambar dalam
disiplin ilmu merupakan sumber utama tujuan. Kurikulum yang demikian yang
kemudian dinamakan sebagai kurikulum yang bersifat “dicipline oriented”. Berbeda
dengan pengembangan kurikulum model humanistik yang bersifat “child centered”,
di mana pengembangan kurikulum lebih berpusat pada pengembangan pribadi
siswa, maka yang menjadi sumber utama dalam perumusan tujuan tentu saja siswa
itu sendiri, baik yang berhubungan dengan pengembangan minat dan bakat serta
kebutuhan untuk membekali hidupnya. Lain lagi dengan kurikulum rekonstruksi
sosial. Kurikulum yang lebih bersifat “society oriented” ini memposisikan kurikulum
sekolah sebagai alat untuk memperbaiki kehidupan masyarakat, maka kebutuhan
dan masalahmasalah sosial kemasyarakatan merupakan sumber tujuan utama
kurikulum.
Walaupun secara teoretis tampak begitu tajam pertentangan antara kurikulum yang
bersumber dari disiplin akademik, kurikulum yang bersumber dari kebutuhan
pribadi dan kebutuhan masyarakat, akan tetapi dalam praktiknya tidak setajam apa
yang ada dalam teori. Anak adalah organisme yang unik yang memiliki berbagai
perbedaan. Ia juga adalah makhluk sosial yang berasal dan akan kembali kepada
masyarakat, oleh karena itulah tujuan kurikulum apa pun bentuk dan modelnya
pada dasarnya harus mempertimbangkan berbagai sumber untuk kepentingan
individu dan kepentingan masyarakat.
b. Menentukan Pengalaman Belajar
Langkah kedua dalam proses pengembangan kurikulum adalah menentukan
pengalaman belajar (learning experiences) sesuai dengan yang telah ditentukan.
Pengalaman belajar adalah segala aktivitas siswa dalam berinteraksi dengan
lingkungan. Pengalaman belajar bukanlah isi atau materi pelajaran dan bukan pula
aktivitas guru memberikan pelajaran. Tyler (1990:4) mengemukakan: “The term
“learning experiences” is not the same as the content with which a course deals nor activities
performed by the teacher. The term “learning experiences” refers to the interaction between
3
the learner and the external conditions in the environment to which he can react. Learning
takes place through the active behavior of the student; it is what he does that he learns not
what the teacher does”.
Pengalaman belajar menunjuk kepada aktivitas siswa di dalam proses pembelajaran.
Dengan demikian, yang harus dipertanyakan dalam pengalaman ini adalah “apa
yang akan atau telah dikerjakan siswa” bukan “apa yang akan atau telah diperbuat
guru”. Untuk itulah, guru sebagai pengembang kurikulum mestinya memahami
minat siswa, serta bagaimana latar belakangnya. Pemahaman tersebut akan
memudahkan guru dalam mendesain lingkungan yang dapat mengaktifkan siswa
memperoleh pengalaman belajar.
Ada beberapa prinsip dalam menentukan pengalaman belajar siswa. Pertama,
pengalaman siswa harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Setiap tujuan akan
menentukan pengalaman belajar. Kedua, setiap pengalaman belajar harus
memuaskan siswa. Ketiga, setiap rancangan pengalaman belajar sebaiknya melibatkan
siswa. Keempat, mungkin dalam satu pengalaman belajar dapat mencapai
tujuan yang berbeda.
Terdapat beberapa bentuk pengalaman belajar yang dapat dikembangkan, misalnya
pengalaman belajar untuk mengembangkan kemampuan berpikir siswa, pengalaman
belajar untuk membantu siswa dalam mengumpulkan sejumlah informasi,
pengalaman belajar untuk membantu mengembangan sikap sosial, dan pengalaman
belajar untuk membantu mengembangkan minat.
c. Mengorganisasi Pengalaman Belajar
Mengorganisasikan pengalaman belajar baik dalam bentuk unit mata pelajaran
maupun dalam bentuk program sangatlah penting, sebab pengorganisasian yang
jelas akan memberikan arah bagi pelaksanaan proses pembelajaran sehingga menjadi
pengalaman belajar yang nyata bagi siswa.
Ada dua pengorganisasian pengalaman belajar, yaitu pengorganisasian secara
vertikal dan pengorganisasian secara horizontal. Pengorganisasian secara vertikal
apabila menghubungkan pengalaman belajar dalam satu kajian yang sama dalam
tingkat yang berbeda. Misalnya, pengorganisasian pengalaman belajar yang
menghubungkan antara bidang geografi di kelas lima dan geagrafi di kelas enam.
Sedangkan pengorganisasian secara horizontal jika kita menghubungkan
pengalaman belajar dalam bidang geografi dan sejarah dalam tingkat yang sama.
Kedua hubungan ini sangat penting dalam proses mengorganisasikan pengalaman
belajar. Misalnya, hubungan vertikal akan memungkinkan siswa memiliki
pengalaman belajar yang semakin luas dalam kajian yang sama; sedangkan
hubungan horizontal antara pengalaman belajar yang satu dan yang lain akan saling
mengisi dan memberikan penguatan.
Ada tiga prinsip menurut Tyler dalam mengorganisasikan pengalaman belajar, yaitu
kontinuitas, urutan isi, dan integrasi. Prinsip kontinuitas ada yang bersifat vertikal
dan horizontal. Bersifat vertikal artinya bahwa pengalaman belajar yang diberikan
harus memiliki kesinambungan yang diperlukan untuk pengembangan pengalaman
belajar selanjutnya. Contohnya, apabila anak diberikan pengalaman belajar tentang
pengembangan kemampuan membaca bahanbahan pelajaran studi sosial maka
harus diyakini bahwa pengalaman belajar tersebut akan dibutuhkan untuk
4
mengembangkan keterampilan berikutnya, seperti keterampilan memecahkan
masalahmasalah sosial.
Prinsip kontinuitas yang bersifat horizontal artinya bahwa suatu pengalaman belajar
yang diberikan kepada siswa harus memiliki fungsi dan bermanfaat untuk
memperoleh pengalaman belajar dalam bidang lain. Contohnya, pengalaman belajar
dalam bidang aritmatika harus dapat membantu untuk memperoleh pengalaman
belajar dalam bidang ekonomi atau dalam bidang IPA.
Prinsip urutan isi sebenarnya erat hubungannya dengan kontinuitas, perbedaannya
terletak pada tingkat kesulitan dan keluasan bahasan. Artinya, setiap pengalaman
belajar yang diberikan kepada siswa harus memperhatikan tingkat perkembangan
siswa. Pengalaman belajar yang diberikan di kelas lima harus berbeda dengan
pengalaman belajar pada tingkat selanjutnya.
d. Evaluasi
Proses evaluasi merupakan langkah yang sangat penting untuk mendapatkan
informasi tentang ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi memegang
peranan yang cukup penting, sebab dengan evaluasi dapat ditentukan apakah
kurikulum yang digunakan sudah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh
sekolah atau belum. Ada dua aspek yang perlu diperhatikan sehubungan dengan
evaluasi. Pertama, evaluasi harus menilai apakah telah terjadi perubahan tingkah
laku siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. Kedua, evaluasi
sebaiknya menggunakan lebih dari satu alat penilaian dalam suatu waktu tertentu.
Dengan demikian, penilaian suatu program tidak mungkin hanya dapat
mengandalkan hasil tes siswa setelah akhir proses pembelajaran. Penilaian mestinya
membandingkan antara penilaian awal sebelum siswa melakukan suatu program
dengan setelah melakukan program tersebut. Dari perbandingan itulah akan tampak
ada atau tidak adanya perubahan tingkah laku yang diharapkan sesuai dengan
tujuan pendidikan.
Ada dua fungsi evaluasi. Pertama, evaluasi digunakan untuk memperoleh data
tentang ketercapaian tujuan oleh peserta didik. Dengan kata lain, bagaimana tingkat
pencapaian tujuan atau tingkat penguasaan isi kurikulum oleh setiap siswa. Fungsi
ini dinamakan sebagai fungsi sumatif. Kedua, evaluasi digunakan untuk melihat
efektifitas proses pembelajaran. Dengan kata lain, apakah program yang disusun
telah dianggap sempurna atau perlu perbaikan. Fungsi ini dinamakan fungsi
formatif.
2. Model Taba
Pengembangan kurikulum model Taba lebih menitikberatkan pada bagaimana
mengembangkan kurikulum sebagai suatu proses perbaikan dan penyempurnaan. Oleh
karena itu, dalam model Taba dikembangkan tahapantahapan yang harus dilakukan
oleh pengembang kurikulum.
Meskipun pengembangan kurikulum biasanya dilakukan secara deduktif, dimulai
dari langkah penentuan prinsipprinsip dan kebijakan dasar, merumuskan desain
kurikulum, menyusun unitunit kurikulum, dan mengimplementasikan kurikulum di
dalam kelas, namun Hilda Taba tidak sependapat dengan langkah tersebut. Menurutnya,
pengembangan kurikulum secara deduktif tidak dapat menciptakan pembaruan
5
kurikulum. Oleh karena itu, menurut Taba, sebaiknya kurikulum dikembangkan secara
terbalik, yaitu dengan pendekatan induktif.
Ada lima langkah pengembangan kurikulum model terbalik dari Taba.
a. Menghasilkan unitunit percobaan (pilot unit) melalui langkahlangkah sebagai
berikut:
1) Mendiagnosis kebutuhan. Pada langkah ini, pengembangan kurikulum dimulai
dengan menentukan kebutuhankebutuhan siswa melalui diagnosis tentang
“gaps”, berbagai kekurangan, dan perbedaan latar belakang siswa.
2) Memformulasikan tujuan. Setelah kebutuhankebutuhan siswa didiagnosis, para
pengemabang kurikulum selanjutnya merumuskan tujuan.
3) Memilih isi. Pemilihan isi bukan saja didasarkan pada tujuan yang ingin dicapai,
melainkan juga harus mempertimbangkan segi validitas dan kebermaknaannya
untuk siswa.
4) Mengorganisasi isi. Melalui penyeleksian isi, selanjutnya isi kurikulum yang telah
ditentukan disusun urutannya, sehingga tampak pada tingkat atau kelas berapa
sebaiknya isi kurikulum itu diberikan.
5) Memilih pengalaman belajar. Pada tahap ini, ditentukan pengalamanpengalaman
belajar yang harus dimiliki siswa untuk mencapai tujuan kurikulum.
6) Mengorganisasi pengalaman belajar. Guru selanjutnya menentukan bagaimana
mengemas pengalamanpengalaman belajar yang telah ditentukan itu ke dalam
paketpaket kegiatan. Sebaiknya dalam menentukan paketpaket kegiatan itu,
siswa diajak serta, agar mereka memiliki tanggung jawab dalam melaksanakan
kegiatan belajar.
7) Menentukan alat evaluasi serta prosedur yang harus dilakukan siswa. Pada penentuan
alat evaluasi ini guru dapat menyeleksi berbagai teknik yang dapat dilakukan
untuk menilai prestasi siswa, apakah siswa sudah dapat mencapai tujuan atau
belum.
8) Menguji keseimbangan isi kurikulum. Pengujian ini perlu dilakukan untuk melihat
kesesuaian anatara isi, pengalaman belajar, dan tipetipe belajar siswa.
b. Menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data dalam rangka menemukan
validitas dan kelayakan penggunaannya.
c. Merevisi dan mengkonsolidasikan unitunit eksperimen berdasarkan data yang
diperoleh dalam uji coba.
d. Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum.
e. Implementasi dan diseminasi kurikulum yang telah teruji. Pada tahap terakhir ini,
perlu dipersiapkan guruguru melalui penataranpenataran, lokakarya dan lain
sebagainya serta mempersiapkan fasilitas dan alatalat sesuai dengan tuntutan
kurikulum.
3. Model Oliva
Model kurikulum Oliva bersifat simpel, komprehensif, dan sistematik, yang
digambarkan seperti pada gambar berikut:
Rumusan
filsafat
Rumusan
tujuan
umum
Rumusan
tujuan
khusus
Desain
Perencanaan
Implementasi
Evaluasi
Model Oliva
6
Komponenkomponen seperti yang tampak pada gambar di atas, menurut Oliva,
adalah komponen pokok, sebab dalam kenyataannya dalam mengembangkan suatu
kurikulum ada 12 komponen yang satu sama lin saling berkaitan, seperti yang terlihat
pada gambar berikut.
Dari bagan di atas, tampak bahwa model pengembangan kurikulum yang
dikemukakan oleh Oliva terdiri dari 12 komponen yang harus dikembangkan, yaitu:
a. Perumusan filosofis, sasaran, misi dan visi lembaga pendidikan yang kesemuannya
bersumber dari analisis kebutuhan siswa dan analisis kebutuhan masyarakat.
b. Analisis kebutuhan masyarakat di mana sekolah itu berada, kebutuhan siswa dan
urgensi dari disiplin ilmu yang harus diberikan oleh sekolah. Sumber kurikulum
dapat dilihat dari komponen pertama dan kedua ini. Komponen pertama berisi
pernyataanpernyataan yang bersifat umum dan sangat ideal; sedangkan komponen
kedua sudah mengarah kepad tujuan yang lebih khusus.
c. Merumuskan tujuan umum.
d. Merumuskan tujuan khusus kurikulum yang didasarkan pada kebutuhan seperti
yang tercantum dalam komponen pertama dan kedua.
e. Mengorganisasikan rancangan dan mengimplementasikan kurikulum.
f. Menjabarkan kurikulum dalam perumusan tujuan umum
g. Menjabarkan kurikulum dalam perumusan tujuan khusus pembelajaran.
Setelah tujuan pembelajaran dirumuskan, kegiatan selanjutnya adalah menetapkan
strategi pembelajaran yang dimungkinkan dapat mencapai tujuan seperti yang terdapat
pada komponen kedelapan. Selama itu pula dapat dilakukan studi awal tentang
kemungkinan strategi atau teknik penilaian yang akan digunakan (komponen
kesembilan A). Selanjutnya pengembangan kurikulum diteruskan pada komponen
kesepuluh), yaitu mengimplementasikan strategi pembelajaran.
Setelah strategi diimplementasikan, pengembangan kurikulum kembali kepada
komponen kesembilan B untuk menyempurnakan alat atau teknik penilaian. Teknik
penilaian seperti yang telah ditetapkan pada komponen kesembilan A bisa ditambah
7
atau direvisi setelah mendapatkan masukan dari pelaksanaan atau implementasi
kurikulum.
Setelah penetapan alat atau teknik penilaian, kegiatan selanjutnya adalah melakukan
evaluasi terhadap pembelajaran (komponen kesebelas) dan evaluasi kurikulum
(komponen kedua belas).
Menurut Oliva, model yang dikembangkan ini dapat digunakan dalam beberapa
dimensi. Dimensi pertama untuk penyempurnaan kurikulum sekolah dalam bidangbidang
khusus, seperti penyempurnaan kurikulum bidang studi tertentu di sekolah baik
dalam tataran perencanaan kurikulum maupun dalam proses pembelajarannya. Dimensi
kedua adalah untuk membuat keputusan dalam merancang suatu program kurikulum.
Sedangkan dimensi ketiga untuk mengembangkan program pembelajaran secara khusus.
4. Model Beauchamp
Model ini dinamakan sistem Beauchamp karena memang diciptakan dan
dikembangkan oleh Beauchamp, seorang ahli kurikulum. Beauchamp mengemukakan
adanya lima langkah dalam mengembangkan kurikulum.
a. Menetapkan wilayah atau arena sistem Beauchamp yang akan melakukan
perubahan suatu kurikulum. Wilayah itu bisa terjadi pada hanya satu sekolah, satu
kecamatan, satu kabupaten, atau mungkin tingkat provinsi dan tingkat nasional.
b. Menetapkan orangorang yang akan terlibat dalam proses pengembangan
kurikulum. Beauchamp menyarankan untuk melibatkan seluasluasnya para tokoh
di masyarakat. Orangorang yang harus dilibatkan itu terdiri dari para ahli
kurikulum, para ahli pendidikan termasuk di dalamnya para guru yang dianggap
berpengalaman, para profesional lain dalam bidang pendidikan (seperti pustakawan,
laporan, konsultan pendidikan dan lain sebagainya), dan para profesional dalam
bidang lain serta para tokoh masyarakat (para politikus, industriawan, pengusaha
dan lain sebagainya).
c. Menetapkan prosedur yang akan ditempuh, yaitu dalam hal merumuskan tujuan
umum dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta menetapkan
evaluasi. Keseluruhan prosedur itu selanjutnya dapat dibagi ke dalam lima langkah:
1) Membentuk tim pengembang kurikulum.
2) Melakukan penilaian terhadap kurikulum yang sedang berjalan.
3) Melakukan studi atau penjajakan tentang penentuan kurikulum baru.
4) Merumuskan kriteria dan alternatif pengembangan kurikulum.
5) Menyusun dan menulis kurikulum yang dikehendaki.
d. Mengimplementasikan kurikulum. Pada tahap ini perlu dipersiapkan secara matang
berbagai hal yang dapat berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung
terhadap efektifitas penggunaan kurikulum, seperti pemahaman guru tentang
kurikulum, sarana atau fasilitas yang tersedia, manajemen sekolah dan lain
sebagainya.
e. Melaksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut:
1) Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum oleh uruguru di sekolah.
2) Evaluasi terhadap desain kurikulum.
3) Evaluasi terhadap keberhasilan anak didik.
4) Evaluasi terhadap sistem kurikulum.
5. Model Wheeler
Menurut Wheeler, pengembangan kurikulum merupakan suatu proses membentuk
lingkaran. Proses pengembangan kurikulum terjadi secara terusmenerus. Wheeler
8
berpendapat bahwa proses pengembangan kurikulum terdiri dari lima tahap. Setiap
tahap merupakan pekerjaan yang berlangsung secara sistematis (berurutan). Artinya,
kita tidak mungkin dapat menyelesaikan tahap kedua manakala tahap pertama belum
terselesaikan. Namun demikian, manakala setiap tahap sudah selesai dikerjakan, kita
akan kembali kepada tahap pertama. Demikian proses pengembangan sebuah kurikulum
berlangsung tanpa ujung. Bagaimana proses pengembangan kurikulum dan komponenkomponen
apa saja yang ada dalam tahap pengembangan, dapat dilihat pada gambar
berikut ini.
Model Pengembangan Kurikulum Wheeler
Wheeler berpendapat bahwa pengembangan kurikulum terdiri atas lima tahap,
yakni:
a. Menentukan tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum bisa merupakan tujuan
yang bersifat normatif yang mengandung tujuan filosofis atau tujuan pembelajaran
umum yang bersifat praktis. Sedangkan tujuan khusus adalah tujuan yang bersifat
spesifik dan obyektif, yakni tujuan yang mudah diukur ketercapaiannya.
b. Menentukan pengalaman belajar yang mungkin dapat dilakukan oleh siswa untuk
mencapai tujuan yang dirumuskan dalam langkah pertama.
c. Menentukan isi atau materi pembelajaran sesuai dengan pengalaman belajar.
d. Mengorganisasi atau menyatukan pengalaman belajar dengan isi atau materi belajar.
e. Melakukan evaluasi terhadap setiap tahap pengembangan dan pencapaian tujuan.
Dari langkahlangkah pengembangan kurikulum yang dikemukakan Wheeler,
tampak bahwa pengembangan kurikulum membentuk sebuah siklus (lingkaran). Pada
hakikatnya, setiap tahap pada siklus membentuk sebuah sistem yang terdiri dari
komponenkomponen pengembangan yang saling bergantung satu sama lainnya.
6. Model Nicholls
Howard Nicholls menjelaskan bahwa pendekatan pengembangan kurikulum terdiri
atas elemenelemen kurikulum yang membentuk siklus.
Model pengembangan kurikulum Nicholls menggunakan pendekatan siklus seperti
model Wheeler. Model Nicholls digunakan apabila ingin menyusun kurikulum baru
yang diakibatkan oleh terjadinya perubahan situasi.
Ada lima langkah pengembangan kurikulum menurut Nicholls, yaitu:
a. Analisis situasi
1. Tujuan umum dan khusus
2. Menentukan pengalaman
belajar
3. Menentukan isi/materi
4. Mengorganisasikan pengalaman
dan bahan belajar
5. Evaluasi
9
b. Menentukan tujuan khusus
c. Menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran
d. Menentukan dan mengorganisasi metode
e. Evaluasi
Setiap langkah pengembangan kurikulum digambarkan oleh Nicholls seperti pada
gambar berikut.
Model Pengembangan Kurikulum Nicholls
7. Model Dynamic Skilbeck
Skilbeck menyebut model pengembangan kurikulum yang ia kembangkan dengan
model dynamic sebagai model pengembangan kurikulum pada level sekolah (school based
curriculum development).
Skilbeck menjelaskan bahwa model ini disusun untuk setiap guru yang ingin
mengembangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Agar proses
pengembangan kurikulum berjalan dengan baik, setiap pengembang termasuk guru
perlu memahami lima elemen pokok yang dimulai dari menganalisis siuasi sampai
kepada melakukan penilaian. Skilbeck menganjurkan agar model pengembangan
kurikulum yang ia susun dapat dijadikan alternatif falam mengembangan kurikulum
tingkat sekolah. Menurut Skilbeck, langkahlangkah pengembangan kurikulum adalah
sebagai berikut:
a. Menganalisis situasi
b. Memormulasikan tujuan
c. Menyusun program
d. Interpretasi dan implementasi
e. Monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi.
Apabila disusun dalam sebuah gambar, model pengembangan kurikulum Skilbeck
dapat dilihat pada gambar berikut ini.
Menentukan tujuan khusus
Evaluasi
Menentukan dan
mengorganisasi metode
Menentukan dan
mengorganisasikan isi
pelajaran
10
Model Pengembangan Kurikulum Skilbeck
Rangkuman
Model pengembangan kurikulum adalah rancangan pengembangan kurikulum yang
dapat dilaksanakan dan diterjemahkan ke dalam pembelajaran. Model pengembangan
berfungsi mengintegrasikan seluruh aspek pengetahuan; menyederhanakan proses
pengembangan kurikulum yang bersifat kompleks; sebagai pedomen melaksanakan
pembelajaran; mempermudah komunikasi; dan sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan
pengelolaan kurikulum. Di samping itu, model pengembangan kurikulum dapat bermanfaat
menolong si pengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan
menyeluruh.
Dalam pengembangan kurikulum, ada beberapa model yang dapat digunakan. Setiap
model memiliki kekhasan tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan kurikulumnya
itu sendiri maupun dilihat dari tahapan pengembangannya sesuai dengan pendekatannya.
Menurut Sukmadinata (2001:161) sekurangkurangnya dikenal model pengembangan
kurikulum, seperti the administrative (line staff) model, the grass roots model, Bouchamp`s system,
the demonstration model, Taba`a inverted model, Roger`s interpersonal relations model, the systematic
action research model dan emerging technical system. Sedangkan Sanjaya menguraikan model
pengembangan kurikulum berikut, yaitu: Model Tyler, Model Taba, Model Oliva, Model
Beauchamp, Model Wheeler, Model Nicholls, dan Skilbeck
Daftar Pustaka
Nasution, S. (2008), AsasAsas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, Wina. (2009), Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: Kencana Prenada.
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2001), Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik, Bandung:
Rosdakarya.
Menganalisis situasi
Memformulasikan
tujuan
Menyusun program
Interpretasi dan
implementasi
Monitoring, feedback,
penilaian dan rekonstruksi
1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar