My Profile

Foto saya
Lamongan jawa timur, Indonesia
Jangan lihat aku dari luar..............!!!!!

Kamis, 10 November 2011

Makalah Ahad 22 Jan 2012


EVALUASI KURIKULUM

Pemakalah :
Usfah Azizah
Siti Utami
Lia Ainurrahmah
A. Pengertian Evaluasi Kurikulum
Menurut Olivia, sebagaimana dikutip Sanjaya (2009), pengembangan kurikulum
merupakan proses yang tidak pernah berakhir (1988). Proses tersebut meliputi orientasi,
perencanaan, implementasi dan evaluasi. Merujuk pada pendapat tersebut maka, dalam
konteks pengembanggan kurikulum, evaluasi merupakan bagian yang tidak dapat
terpisahkan dari pengembangan kurikulum itu sendiri. Melalui evaluasi, dapat
ditentukan nilai dan arti suatu kurikulum, sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan
apakah suatu kurikulum perlu dipertahankan atau tidak; bagianbagian mana yang harus
disempurnakan.
Seperti Olivia, Cronbach dalam Sanjaya (2009) memandang bahwa evaluasi kurikulum
merupakan komponen dalam proses membuat keputusan.....curriculum evaluation as
component in the decision making process....Evaluation broadly as the collection and use
information to make decisions about an educational program. Bagi Cronbach, evaluasi
kurikulum pada dasarnya adalah sebagai suatu proses mengumpulkan berbagai informasi
dalam rangka membuat suatu keputusan tentunya program pendidikan. Artinya, melalui
evaluasi apakah suatu program pendidikan perlu ditambahkan, dikurangi atau mungkin
diganti.
Menurut Sanjaya (2009) evaluasi kurikulum adalah suatu proses mempertimbangkan
untuk memberi nilai dan arti terhadap suatu kurikulum tertentu. Kurikulum yang
dimaksud di sini adalah sebuah dokumen atau kurikulum tertulis. Sebagai rencana yang
mengatur tentang isi dan tujuan pendidikan serta cara yang digunakan untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu.
Konsep nilai dan arti, dalam konteks penilaian terhadap suatu kurikulum memiliki
makna yang berbeda. Pertimbangan nilai adalah pertimbangan yang ada dalam
kurikulum itu sendiri. Contohnya berdasarkan proses pertimbangan tertentu, evaluator
memberikan nilai: apakah kurikulum yang dinilai itu dapat dimengerti oleh guru sebagai
pelaksana kurikulum; apakah setiap komponen yang terdapat dalam kurikulum itu
memiliki hubungan yang serasi; apakah kurikulum yang dinilai itu dianngap sederhana
dan mudah dilaksanakan oleh guru; dan lain sebagainya.
Sedangkan konsep arti berhubungan dengan kebermaknaan suatu kurikulum.
Misalkan, apakah kurikulum yang dinilai memberikan arti untuk meningkatkan
kemampuan berpikir siswa; apakah kurikulum itu dapat mengubah cara belajar siswa
kepada yang lebih baik;apakah kurikulum itu dapat lebih meningkatkan pemahaman
siswa terhadap lingkungan sekitar; dan lain sebagainya.
Dari hasil evaluasi kurikulum, evaluator menyimpulkan bahwa kurikulum yang
dievaluasi itu cukup sederhana dan dimengerti guru akan tetapi tidak memiliki arti untuk
mengkatkan kualitas pembelajaran siswa. Sebaliknya, kurikulum yang dievaluasi itu
memang sedikit rumit untuk diterapkan oleh guru akan tetapi memiliki nilai yang berarti
untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
B. Peranan Evaluasi Kurikulum
Menurut Sukmadinata, peranan evaluasi kurikulum berkenaan dengan tiga hal.
Pertama, evaluasi sebagai moral judgement, di mana hasil evaluasi berisi suatu nilai yang
akan digunakan untuk tindakan selanjutnya. Dalam hal ini, evaluasi melputi dua
2
kegiatan, yaitu mengumpulkan informasi dan menentukan suatu keputusan. Dalam
evaluasi kurikulum yang sering menjadi perdebatan adalah pemisahan antara pengumpul
informasi dan yang mengambil keputusan. Pemisahan ini menjadi karakteristik
institusional yang mempengaruhi pemisahan pekerjaan sebagai admiistrator dan peneliti.
Kedua, evaluasi dan penentuan keputusan. Dalam hal ini, banyak siapa penentu
keputusan dalam pendidikan, seperti guru, murid, orang tua, kepala madrasah,
pengembang, atau pemerintah. Setiap individu tersebut membuat keputusan sesuai ruang
lingkup tanggung jawabnya. Bagi peserta didik, hasil evaluasi kurikulum dapat dijadikan
penentuan keputusan apakah peserta didik harus lebih rajin atau tidak.; apakah ia akan
memilih jurusan IPA atau IPS. Berbeda dengan guru, hasil evaluasi kurikulum dapat
dijadikan guru untuk memperbaiki Pertanyaannya, apakah hasil evaluasi kurikulum
dapat dimanfaatkan untuk semua pihak? Jawabannya tidak tentu. Sutau informasi
mungkin lebih bermanfaat bagi pihak tertentu, tetapi kurang bermanfaat bagi pihak lain.
Ketiga, evaluasi dan konsensus nilai. Dlam penjelasan di atas disebutkan bahwa
evaluasi dan penilaian kurikulum berisi nilainilai yang dibawakan oleh orangorang yang
terlibat dalam penilaian atau penelitian dalam evaluasi kurikulum. Para partisipan dalam
pendidikan bisa guru, murid, orang tua, pengembang kurikulum, administrator, ahli
politik, ahli ekonomi, dan sebagainya.
C. Ruang Lingkup Evaluasi Kurikulum
Kurikulum dapat dipandang dari dua sisi. Sisi pertama kurikulum sebagai suatu
program pendidikan atau kurikulum sebagai suatu dokumen; dan sisi kedua kurikulum
sebagai suatu proses atau kegiatan. Dalam proses pendidikan kedua sisi ini sama
pentingnya, seperti dua sisi dari satu mata uang logam. Apa artinya sebuah program
tanpa diimplementasikan; dan apa artinya implementasi tanpa program yang menjadi
acuan. Evaluasi kurikulum haruslah mencakup kedua sisi tersebut. Baik kurikulum
sebagai suatu dokumen yang dijadikan pedoman, maupun kurikulum sebagai suatu
proses, yakni implementasi dokumen rencana tersebut.
1. Evaluasi Kurikulum sebagai Suatu Program atau Dokumen
Suatu program atau dokumen, kurikulum memiliki beberapa komponen pokok, yaitu
tujuan yang ingin dicapai, isi atau materi kurikulum itu sendiri, strategi pembelajaran
yang direncanakan, serta rencana evaluasi keberhasilan.
a. Evaluasi Tujuan Pendidikan
Rumusan tujuan merupakan salah satu komponen yang ada dalam dokumen
kurikulum. Evaluasi kurikulum sebagai dokumen adalah evaluasi terhadap tujuan,
setiap mata pelajaran terdapat sejumlah kriteria untuk menilai tujuan ini.
1) Apakah tujuan mata pelajaran itu berhubungan dan diarahkan untuk mencapai
tujuan lembaga sekolah yang bersangkutan?
2) Setiap sekolah memiliki visi dan misi yang berbeda. Sekolah menengah umum
berbeda dengan sekolah kejuruan, walaupun sama merupakan sekolah lanjutan.
Demikian juga, antara sekolah kejuruan rumpun yang satu berbeda dengan
rumpun yang lain. Oleh karena perbedaan itulah, maka setiap mata pelajaran atau
bidang studi yang diberikan di setiap sekoah harus dapat mendukung pencapaian
tujuan sekolah. Misalkan, walaupun mata pelajaran matematika dipelajari oleh
setiap siswa SMU dan kejuruan, akan tetapi tujuan mata pelajaran di kedua
sekolah itu mestilah berbeda.
3) Apakah tujuan itu mudah dipahami oleh setiap guru?
3
4) Sebagai suatu dokumen, kurikulum tidak akan memiliki makna apaapa tanpa
diimplementasikan oleh guru. Oleh karena itulah, guru perlu memahami setiap
tujuan mata pelajaran yang dibinanya. Dengan demikian, maka sebaiknya tujuan
dirumuskan dalam bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.
5) Apakah tujuan yang dirumuskan dalam dokumen itu sesuai dengan tingkat
perkembangan siswa?
6) Kurikulum disusun pada dasarnya untuk mengembangkan setiap potensi yang
dimiliki siswa. Siswa bukanlah orang dewasa dalam bentuk mini, namun mereka
adalah organisme yang sedang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap
perkembangannya. Dengan demikian, tujuan dalam kurikulum harus sesuai
dengan taraf perkembangan siswa itu sendiri.
b. Evaluasi terhadap Isi/Materi Kurikulum
Bahwa yang dimaksud dengan isi atau materi kurikulum adalah seluruh pokok
bahasan yang diberikan dalam setiap mata pelajaran. Sejumlah pertanyaan yang dapat
dijadikan kriteria untuk menguji isi atau materi kurikulum di anataranya:
1) Apakah isi kurikulum sesuai atau dapat mendukung pencapaian tujuan seperti
yang telah ditetapkan?
2) Isi pelajaran bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, akan tetapi materi atau isi
pelajaran disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, isi pelajaran
harus memiliki keterkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai.
3) Apakah isi atau materi kurikulum sesuai dengan pandanganpandangan atau
penemuanpenemuan yang mutakhir?
4) Muatan kurikulum pada dasarnya berisikan tentang berbagai disiplin ilmu. Setiap
ilmu itu tidaklah bersifat statis, akan tetapi bersifat dinamis, artinya ilmu itu
sendiri terusmenerus berkembang. Suatu teori dalam disiplin ilmu bisa terjadi
tidak berlaku lagi manakala ditemukan teori baru. Oleh karena itulah, setiap
materi pelajaran harus sesuai dengan pandanganpandangan baru.
5) Apakah isi kurikulum sesuai dengan pengalaman dan karakteristik lingkungan di
mana anak tinggal?
6) Pendidikan berfungsi untuk mempersiapkan anak didik agar mereka dapat
‘’hidup’’ di masyarakatnya sendiri. Oleh karena itu., kurikulum sebagai alat
pendidikan harus berisikan dan memberi pengalaman kepada peserta didik sesuai
dengan karakteristik lingkungan di mana mereka tinggal. Apalagi dalam
masyarakat yang majemuk, pendidikan harus sesuai dengan kemajemukan
mayarakat. Isi kurikulum yang tidak sesuai dengan karakteristik masyarakat di
mana siswa berasal dan tempat mereka kembali, akan tidak bermakna.
7) Apakah urutan isi kurikulum sesuai karakteristik isi atau materi kurikulum?
8) Setiap mata pelajaran memiliki sistem berpikir yang berbeda, yang ditunjukkan
oleh urutan isi (sequence). Ada mata pelajaran yang memiliki urutan yang
sistematis dan logis artinya, urutan bahan pelajaran tersusun sedemikian rupa
sesuai dengan karakteristik bahan itu sendiri. Misalnya, materi pelajaran
matematika, fisika dan kimia. Dalam menyusun materi pelajaran tersebut, harus
sesuai dengan urutan yang teratur dan terstruktur. Misalnya, tidak mungkin
pengembang kurikulum menyajikan materi tentang penjumlahan tanpa terlebih
dahulu disajikan tentang lambanglambang bilangan. Berbeda dengan pelajaran
sejarah, pengembang kurikulum bisa memulai dari mana saja apakah dari
pendekatan geografis, atau dari urutan peristiwa atau dari mana saja. Penyajian
bahan pelajaran bisa dari mana saja sesuai dengan tujuan dan kebutuhan.
4
c. Evaluasi terhadap Strategi pembelajaran
Sebagai suatu pedoman bagi guru, kurikulum juga seharusnya memuat petunjukpetunjuk
bagaimana cara pelaksanaan pembelajaran atau cara mengimplementasikan
kurikulum di dalam kelas. Salah satu aspek yang berhubungan dengan implementasi
kurikulum adalah aspek pedoman perumusan strategi pembelajaran. Sejumlah
kriteria yang dapat diajukan untuk menilai pedoman stategi belajar mengajar di
antaranya:
1) Apakah strategi pembelajaran yang dirumuskan sesuai dan dapat mendukung
untuk keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan?
2) Bagaimanapun idealnya suatu dokumen kurikulum yang memuat tujuantujuan
yang ingin dicapai, maka efektivitas pencapaiannya sangat ditentukan oleh
strategi yang diterapkan. Strategi pencapaian tujuan bidang kognitif akan berbeda
dengan strategi pencapaian tujuan bidang efektif dan psikomotor. Masingmasing
tujuan berdampak pada strategi yang harus digunakan.
3) Apakah strategi pembelajaran yang diusulkan dapat mendorong aktivitas dan
minat siswa untuk belajar?
4) Suatu strategi yang digunakan harus dapat mendorong siswa untuk beraktivitas.
Belajar tidak sama dengan duduk, mencatat dan menghafal materi pelajaran.
Belajar adalah suatu proses perubahan perilaku berkat adanya pengalaman.
Dengan demikian, proses pembelajaran pada dasarnya adalah memberikan
pengalaman pada siswa. Oleh sebab itu, strategi pembelajaran harus dirancang
untuk memberi pengalaman belajar yakni mendorong siswa untuk melakukan
berbagai aktivitas sesuai dengan tujuan yang harus dicapai.
5) Bagaimana keterbacaan guru terhadap pedoman pelaksanaan strategi
pembelajaran yang direncanakan?
6) Rancangan strategi pembelajaran bukan berisi tentang uraianuraian teoritis, akan
tetapi berisi tentang uraian praktis, sehingga dapat dicerna dengan mudah oleh
guru. Keterbacaan rancangan strategi ini sangat perlu, sebab pada praktiknya
gurulah yang akan menjabarkan kurikulum menjadi praktik pembelajaran secara
langsung dilapangan. Berkaitan dengan keterbacaan juga menyangkut
pemahaman guru tentang strategi yang direncanakan baik mengenai hakikat
strategi maupun mengenai langkahlangkah perkembangan strategi. Strategi yang
tidak dipahami, hanya akan menjadikan pedoman kurikulum sebagai sesuatu
yang idea tanpa dapat diaplikasikan.
7) Apakah strategi pembelajaran yang dirumuskan dapat mendorong kreativitas
guru?
8) Salah satu prinsip pengembangan kurikulum sebagai suatu pedoman adalah
prinsip fleksibilitas, artinya bahwa kurikulum itu bersifat lentur yakni dapat
digunakan dalam berbagai kondisi dan siruasi. Dengan demikian, kurikulum
harus dapat diterjemahkan oleh setiap guru sesuai dengan kondisi yang ada.
Kurikulum harus dapat mendorong guru agar berimprovisasi secara kreatif dalam
pengimplementasiannya.
9) Apakah strategi pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan siswa?
10) Siswa adalah organisme yang sedang berkembang, yang dalam setiap tahap
perkembangan memiliki karakteristik dan sifatsifat tertentu. Strategi
pembelajaran yang dirancang haruslah sesuai dengan tahap perkembangan
tersebut. Misalnya, untuk merancang strategi pembelajaran di SD mestilah
berbeda dengan strategi pembelajaran yang dikembangkan di SMP atau SMA.
5
11) Apakah strategi pembelajaran yang dirumuskan sesuai dengan alokasi waktu
yang tersedia?
12) Alokasi waktu merupakan aspek yang cukup penting dalam membuat keputusan
tentang strategi yang diusulkan. Mengapa demikian? Sebab bagaimanapun
idealnya suatu strategi, tanpa kesesuaian denga waktu yang dialokasikan, maka
tidak mungkin strategi itu dapat diterapkan. Dengan demikian, sebelum
merancang suatu strategi semestinya guru menganalisis terlebih dahulu tentang
alokasi waktu yang tersedia.
d. Evaluasi terhadap Program Penilaian
Komponen yang keempat, yang harus dijadikan sasaran penilai terhadap
kurikulum sebagai suatu program adalah evaluasi terhadap program penilaian.
Beberapa kriteria yang dapat dijadikan acuan adalah:
1) Apakah program evaluasi relevan dengan tujuan yang ingin dicapai?
Tujuan merupakan inti dari suatu program kurikulum. Keberhasilan kurikulum
pada dasarnya adalah keberhasilan mencapai tujuan kurikulum itu sendiri. Oleh
sebab itu, maka program evaluasi perlu diuji kerelavannya dengan tujuan yang
ingin dicapai.
2) Apakah evaluasi diprogramkan untuk mencapai fungsi evaluasi baik sebagai
formatif maupun fungsi sumatif?
Evaluasi yang dirumuskan bukanlah evaluasi yang hanya sekedar untuk melihat
keberhasilan siswa saja yang kemudian dinamakan evaluasi hasil belajar, akan
tetapi juga perlu diuji evaluasi yang dapat menguji keberhasilan guru dalam
melaksanakan proses pembelajaran, kedua fungsi evaluasi ini sangat penting.
Evaluasi hasil belajar dapat mengukur sejauh mana siswa dapat mencapai target
kurikulum yang kemudian memiliki arti untuk melihat kedudukan siswa dalam
kelompoknya; sedangkan melalui evaluasi proses dapat dijadikan umpan balik
bagi guru dalam menentukan keberhasilan kinerjanya sehingga guru dapat
memperbaiki kelemahan dalam mengajar.
3) Apakah program evaluasi yang direncanakan mudah dibaca dan dipahami oleh
guru?
Alat evaluasi beserta pedoman pengolahannya harus dapat dibaca oleh guru,
sehingga memungkinkan guru menjadikan sebagai pedoman. Pedoman evaluasi
dapat memberikan petunjuk bagi guru untuk menentukan tingkat penguasaan
dan pencapaian kompetensi yang pada akhirnya dapat menentukan kriteria
kelulusan untuk setiap siswa.
4) Apakah program evaluasi mencakup semua aspek perubahan perilaku?
Evaluasi yang baik bukan hanya mengukur kemampuan siswa dalam aspek
tertentu saja, akan tetapi harus mengukur semua aspek baik kognitif, efektif
maupun psikomotorik. Program evaluasi yang hanya mengukur salah satu aspek
dapat menyebabkan keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan tidak optimal.
2. Evaluasi Pembelajaran sebagai Implementasi Kurikulum
Telah dijelaskan di muka, bahwa kurikulum sebagai suatu dokumen memiliki
keterkaitan yang baik terpisahan dengan implementasi dokumen tersebut dalam kegiatan
pembelajaran. Kurikulum dan pembelajaran bagai dua sisi dari satu mata uang logam
yang masingmasing sama pentingnya. Alexander menyebutnya sebagai Romeo dan
Juliet, artinya Romeo tidak akan berarti tanpa Juliet dan sebaliknya Juliet tak akan ada
artinya tanpa Romeo. Walaupun keduannya memiliki posisi yang berbeda, akan tetapi
sama pentingnya. Dengan demikian, sisi kedua dari kurikulum adalah pelaksanaan atau
6
implementasi kurikulum itu sendiri. Beberapa kriteria yang dapat diajukan untuk menilai
implementasi tersebut diantarannya adalah sebagai berikut.
a. Apakah implementasi kurikulum yang dilaksanakan oleh guru sesuai dengan
program yang direncanakan?
b. Kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran.
Kurikulum disusun dan dikembangkan bukan hanya berfungsi sebagai alat
administrasi saja. Oleh sebab itu, dalam proses pembelajaran guru harus sesuai
dengan program perencanaan yang telah disusun.
c. Sejauh mana siswa dapat berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai?
d. Kurikulum disusun pada hakikatnya untuk proses pembelajaran siswa dalam upaya
pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian, implemntasi kurikulum
harus melibatkan siswa secara penuh. Siswa memiliki gaya belajar serta kemampuan
yang berbeda, oleh sebab itu guru harus menempatkan siswa sebagai subjek belajar,
bukan sebagai objek yang dapat diatur dan ditentukan oleh kehendak guru.
Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang berorientasi pada aktivitas siswa.
e. Apakah secara keseluruhan implementasi kurikulum dianggap efektif dan efisien?
f. Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang dapat mencapai tujuan secara
optimal sesuai dengan program perencanaan yang telah disusun. Dengan demikian,
maka efektivitas implementasi kurikulum dapat diukur dari pencapaian tujuan yang
telah ditetapkan.
D. Model Evaluasi Kurikulum
Evaluasi kurikulum merupakan suatu tema yang luas dan meliputi banyak kegiatan,
seperti prosedur, bahkan menurut Sukmadinata (20001:185) evaluasi kurikulum
merupakan suatu disiplin ilmu sendiri. Evaluasi kurikulum, menurut Sukmadinata (2001)
terdiri dari tiga model, yaitu:
1. Evaluasi Model Penelitian
Evaluasi model penelitian didasarkan pada metode tes psikologi dan eksperimen
lapangan. Tes psikologis atau psikometrik pada umumnya mempunyai dua bentuk, yaitu
tes intelegensi yang digunakan untuk mengukur kemampuan bawaan serta tes hasil
belajar yang mengukur prilaku skolastik. Sedangkan model eksperimen dilakukan untuk
mengetahui hasil belajar pada akhir percobaan melalui tes (pre tes dan post tes).
Comparative approach dalam evaluasi bisa menggunakan perbandingan antara dua
macam kelompok anak, umpamanya yang menggunakan dua metode belajar yang
berbeda. Misalnya, kelompok pertama belajar membaca dengan metode global dan
kelompok kedua belajar membaca dengan metode unsur.
Metode eksperimen ini sulit dilaksanakan karena banyak kendala. Pertama, kendala
administratif karena sedikit sekali sekolah yang bersedia dijadikan sekolah eksperimen.
Kedua, kendala teknis dan logis karena kesulitan menciptakan kondisi kelas yang sama
untuk kelompokkelompok yang diuji. Ketiga, terdapat kendala untuk mencampurkan
guruguru yang mengajar pada kelaskelas eksperimen dan kelas kontol.
2. Evaluasi Model Obyektif
Model yang berasal dari Amerika ini, berbeda dengan model perbandingan. Dalam
model obyektif, evaluasi merupakan bagian penting dari pengembangan kurikulum.
Evaluator mempunyai peranan menghimpun pendapatpendapat orang luar tentang
inovasi kurikulum yang dilaksanakan. Evaluasi dilaksanakan pada akhir pengembangan
kurikulum. Kurikulum tidak dibandingkan dengan kurikulum lain, tetapi diukur dengan
7
seperangkat obyektif (tujuan khusus). Keberhasilan kurikulum diukur dengan
penguasaan siswa akan tujuantujuan tersebut.
Ada beberapa persyaratan yang harus dipengaruhi oleh tim pengembang model
obyektif, yaitu:
a. Kesepakatan tentang tujuantujuan kurikulum
b. Merumuskan tujuantujuan tersebut dalam perilaku siswa
c. Menyusun materi kurikulum yang sesuai dengan tujuan tersebut
d. Mengukur kesesuaian antara prilaku siswa dengan hasil yang diinginkan.
3. Evaluasi Model Campuran Multivariasi
Evaluasi dengan model Campuran multivariasi adalah strategi evaluasi yang
menyatukan unsur0unsur dari pendekatan komparatif dan obyektif. Metodemetode ini
digunakan dalam evaluasi kurikulum setelah program komputer dan program paket
(statistik)berkembang. Langkahlangkah model multivariasi adalah sebagai berikut:
a. Mencari sekolah yang bersedia dievaluasi
b. Pelaksanaan program. Bila tidak ada pencampuran sekolah tekanannya pada
partisipasi optimal
c. Tim menyusun tujuan yang meliputi semua tujuan dari pengajaran umpamanya
dengan metode global dan metode unsur, dapat disiapkan tes tambahan.
d. Bila informasi terkumpul, dimulai pekerjaan komputer
e. Memberikan analisis ntuk mengukur pengaruh dari beberapa variabel.
Beberapa kesulitan dihadapi dalam model campuran multivariasi. Pertama, adalah
diharapkan memberikan tes statistik yang signifikan. Maka untuk itu, diperlukan 100
kelas dengan 10 pengukuran. Dan ini lebih memungkinkan dari pada 10 kela dengan 100
pengukuran. Jadi evaluasi model multivariasi ini lebih sesuai bagi evaluasi kurikulum
skala besar. Kesulitan kedua adalah terlalu banyaknya variabel yang perlu dihitung
mungkin sampai 300 variabel sedangkan komputer emiliki keterbatasan dalam mengukur
variabel. Model ini menghadapi masalahmasalah perbandingan.
Rangkuman
Evaluasi kurikulum adalah suatu proses mempertimbangkan untuk memberi nilai dan
arti terhadap suatu kurikulum tertentu. Kurikulum yang dimaksud di sini adalah sebuah
dokumen atau kurikulum tertulis. Sebagai rencana yang mengatur tentang isi dan tujuan
pendidikan serta cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Peranan evaluasi kurikulum berkenaan dengan tiga hal. Pertama, evaluasi sebagai
moral judgement, di mana hasil evaluasi berisi suatu nilai yang akan digunakan untuk
tindakan selanjutnya. Kedua, evaluasi dan penentuan keputusan. Dalam hal ini, banyak
siapa penentu keputusan dalam pendidikan, seperti guru, murid, orang tua, kepala
madrasah, pengembang, atau pemerintah. Ketiga, evaluasi dan konsensus nilai. Dlam
penjelasan di atas disebutkan bahwa evaluasi dan penilaian kurikulum berisi nilainilai
yang dibawakan oleh orangorang yang terlibat dalam penilaian atau penelitian dalam
evaluasi kurikulum. Para partisipan dalam pendidikan bisa guru, murid, orang tua,
pengembang kurikulum, administrator, ahli politik, ahli ekonomi, dan sebagainya.
Evaluasi kurikulum haruslah mencakup kedua sisi kurikulum, baik kurikulum
sebagai suatu dokumen yang dijadikan pedoman, maupun kurikulum sebagai suatu
proses, yakni implementasi dokumen rencana tersebut. Evaluasi kurikulum sebagai
dokumen, meliputi a) Evaluasi Tujuan Pendidikan; b) Evaluasi terhadap Isi/Materi
Kurikulum; c) Evaluasi terhadap Strategi pembelajaran; d) Evaluasi terhadap Program
Penilaian.
8
Model evaluasi kurikulum setidaknya ada tiga, yaitu evaluasi model penelitian,
evaluasi model obyektif, dan evaluasi model campuran multivariasi
Daftar Pustaka
Sanjaya, Wina. (2009)., Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: Kencana Prenada
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2001), Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik, Bandung:
Rosdakarya.
























Tidak ada komentar:

Poskan Komentar